
Kemarin senja, sepuluh menit sebelum azan magrib, mata saya terpancing oleh papan nama gang pada sebuah jalan: Gg. H. Jari. Saya agak sering melewati jalan itu, namun tak pernah memperhatikan ada gang yang saya simpulkan bernama lengkap Gang Haji Jari.
Kebetulan sebelum mengayunkan langkah dari rumah saya mengaktifkan penanda lokasi geografis pada kamera ponsel agar masuk ke metadata foto. Memang sih setelah foto asli terhapus, saya akan kehilangan jejak lokasi pemotretan. Kemarin saya juga mengecek jam salat magrib untuk memastikan saya akan tiba di sebuah warung sebelum pintunya tutup pas azan bergema.

Walakin demikian lamunan saya menyusupi labirin dalam benak. Untuk sementara saya menduga Haji Jari dulu adalah pemilik tanah di sana sebelum menjadi perkampungan padat. Hal ini merupakan gambaran tipikal masyarakat Betawi: sejumlah gang tak bernama akhirnya dilabeli nama tuan tanah, atau menjadi Gang Masjid dan Gang Langgar, atau gang dengan nama masjid maupun musala.
Gang Haji Jari terletak di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondokmelati, Kobek, Jabar. Ketika Bekasi hanya kabupaten, belum dipecah sehingga menjadi kabupaten dan kota, Jatirahayu ikut Kecamatan Pondokgede, yang berbatasan dengan Jaktim, dipisahkan oleh Kali Sunter.
Secara kultural, masyarakat Pondokgede lebih berwarna Betawi, maka sejumlah toko roti masih melayani roti buaya, dan sampai dua dasawarsa lalu masih ada hajatan menanggap lenong sebelum tergusur layar tancap dan pentas dangdut. Meskipun berada di Provinsi Jawa Barat, warga asli Pondokgede dan sekitarnya tak berbicara dalam bahasa Sunda. Mencari daun pohpohan untuk lalap di tukang sayur dan pasar kampung pun sulit, kecuali memesan sehari sebelumnya melalui WhatsApp.
Dalam latar macam itulah maka di Pondokgede dan sekitarnya ada Gang Haji Jari, Gang Djaim, Gang Haji Enting, Gang Haji Kontongan, Gang Haji Hasim, Gang Boin, dan seterusnya. Perihal nama Gang Mantri Yoram Baiin, tanpa Haji, di Pondokmelati, saya menduga itu bagian dari komunitas Kristiani warga Betawi di Kampung Sawah, karena di sana ada gereja Katolik seabad lebih, yakni St. Servatius (1897), dan Gereja Kristen Pasundan (dirintis mulai 1870, gedung gereja dibangun 1902).
Lalu masalah apa yang akan saya kedepankan dalam tulisan ini? Tetap sama dengan pos tentang Gang Djaim: ketiadaan riwayat toponimis jalan dan gang. Saya berprasangka, kelurahan sebagai salah satu ujung terdepan kehadiran negara tak memiliki data historis macam itu.

Jangan-jangan kelak nama sejumlah jalan berubah nama tentara seperti selera Orde Baru, sehingga nama lokal hilang. Untunglah, di Semarang, Jateng, bulan ini, pemkot menamai jalan menuju tempat pembuangan akhir sampah sebagai Jalan Y.B. Mangunwijaya, sebagai penghormatan kepada sang pastor yang peduli rakyat kecil. Sebelumnya jalan itu tak punya nama resmi.
Memang sih Romo Mangun (1929–1999) yang arsitek itu pernah menjadi anggota tentara. Di Den Haag, Negeri Belanda, sepuluh tahun silam pemkot meresmikan Munirpad, nama jalan untuk menghormati Munir Said Thalib (1965–2004).
Kelak bisa saja suatu area di kampung menjadi apartemen, kompleks perumahan, atau bendungan, tetapi jejak kesejarahan sebuah lahan hunian manusia terhapus. Dari arsip versi gratis Google Maps dan Google Earth maupun citra satelit berbayar macam ESRI Wayback Atlas, kita bisa mendapatkan citra satelit lama sebuah wilayah. Namun hanya peta dari kamera di angkasa. Tak ada data toponimis karena harus sudah ada yang menuliskan sejarah gang.

Pentingkah hal itu? Bagi saya penting. Masa sih orang hanya tahu tempat berpijaknya hari ini. Memang dari arsip peta sebelum pemanfaatan luas pengindraan jauh (remote sensing) kita bisa mempelajari perubahan sebuah desa. Misalnya karena pertumbuhan penduduk dan ruang hunian, kuburan yang biasanya di pinggir desa akhirnya di tengah desa. Pernah saya ceritakan, mahasiswa KKN pada tahun 1980-an yang akan membuat ulang peta desa terpaksa merujuk peta buatan US Army 1950-an.
—


3 Comments
Beberapa waktu lalu, saat pagi hari berolahraga jalan kaki melewati gang kecil di wilayah kelurahan lain, saya melihat nama Jalan Pramugari. Pengin bikin konten tentang itu ternyata tertunda teroooooos.
Menarik untuk diceritakan apalagi oleh pensiunan wartawan 👍🙏💐
Menunda terooossss… 🙈
Padahal nggak bayar lho