Gubernur Bali kaget, pohon di DAS tinggal 3 persen

Wayan Koster tak tahu, pohon di DAS Ayung tinggal sedikit, padahal minimum harus 30%.

▒ Lama baca < 1 menit

DAS Ayung Bali yang ada pohonnya tinggal 3% - CNN Indonesia — Blogombal.com

Ketika membaca judul berita di CNN Indonesia saya tersenyum kecut bercampur apek. Lalu saya baca isi beritanya yang mengutip Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurrofiq. Menurut dia, dengan membandingkan hutan di sepanjang DAS (daerah aliran sungai) Ayung pada 2015, kini lahan yang ditumbuhi pepohonan hanya tiga persen.

“Jumlah totalnya 49.500 hektare. Kemudian dari 49.500 hektare itu yang ada pohonnya hanya sekitar 1.500 hektare atau boleh dikatakan hanya tiga persen. Tadi, Pak Gubernur juga agak kaget,” kata Faisol saat menggelar rapat masalah banjir di Bali, bersama Gubernur Bali, Wayan Koster, di Denpasar, Sabtu malam (13/9/2025).

Hwaduh, gubernur kaget? Eh, agak terkejut? Padahal menurut Hanif, wilayah untuk pepohonan di DAS Ayung yang mencakup Gianyar, Denpasar, dan Badung itu minimum 30 persen.

Tentu kepala daerah tak harus tahu sampai mendetail semua data mutakhir apa pun di wilayahnya. Yang jadi masalah, apakah tak ada laporan dari bawahan? Jika menyangkut lingkungan DAS ya mestinya pekan lalu saat sebagian Bali diserang banjir.

Laporan data terestrial di pemda seharusnya selalu mutakhir, apalagi kini dibantu citra satelit. Saya teringat cerita seorang geografer ahli pengindraan jauh sekian tahun silam. Suatu kali dia mengisi lokakarya di sebuah kantor agraria di sebuah kota. Dia menanya peserta, “Wilayah di seberang kantor ini berupa apa?”

Semua kompak menjawab, “Sawah!” Sang geografer mengoreksi, “Saya lihat sendiri, di depan itu pasar!”

Peserta ngeyel, karena dalam data mereka berupa sawah. Hmm… apalah artinya data kalau kenyataan visual yang terindra langsung oleh mata manusia secara faktual adalah pasar.

Dalam asumsi saya, merujuk skripsi sang geografer pada medio 1980-an, luas ruang vegetatif di lereng Gunung Merapi, DIY, bisa dilihat dari membandingkan citra satelit antarwaktu. Bahkan skripsi tersebut menghitung luasan pohon tertentu pada wilayah sampel dari pancaran spektral klorofil dalam foto udara.

Bulan lalu saya bersua dia sebagai profesor. Tentang pagar laut di perairan Jakarta, dia bilang sebuah instansi yang sangat berwenang dengan masalah itu tak punya citra satelit yang memadai, “Soalnya pake yang gratisan.”

6 Comments

Junianto Selasa 16 September 2025 ~ 07.47 Reply

Gubernurnya makjegagik….

Pemilik Blog Selasa 16 September 2025 ~ 08.33 Reply

Makjegagik karena kena plekenyik anak buah

Rudy Senin 15 September 2025 ~ 11.43 Reply

Kenapa judul beritanya gubernur kaget, bukan gubernur murka karena tak diberi informasi?

Pemilik Blog Senin 15 September 2025 ~ 13.20 Reply

Lha memang cuma “agak kaget” tuh. Lebih ringan daripada “kaget banget”.

mpokb Minggu 14 September 2025 ~ 23.47 Reply

Gubernurnya aja kaget, eh agak kaget, apalagi warganya. Coba dilihat satu per satu, siapa saja empunya vila dan hotel di Bali.. Berani nggak nyuruh bongkar? 😀

Pemilik Blog Senin 15 September 2025 ~ 13.18 Reply

Biasanya ada jawaban pengelak nan jitu, “Itu sudah berlangsung lama sebelum periode saya.”

Tinggalkan Balasan