
Saya akrab dengan burung hantu sebagai nama. Tadi istri saya bilang, melihat langsung burung hantu setelah dewasa di kebun binatang. Saya juga, sejak kecil hanya tahu dari foto, film, dan ilustrasi, setelah saya dewasa saya lupa melihat langsung di mana.
Saya pernah menanya kawan semasa SD, bagaimana cara melihat burung hantu. Harus malam, katanya. Bagaimana jika bersua hantu tanpa burung? Dia bilang embuh. Teman di SMP bilang, untuk melihat manuk beluk memang harus malam, tetapi dengar dulu suaranya agar mudah mencarinya. Kata nyanyian anak-anak, “terdengar burung hantu, suaranya merdu…” — (“Matahari Terbenam”, ciptaan Daldjono Hadisudibyo?).

Mengapa burung hantu menjadi lambang pengetahuan, banyak teks yang menjelaskan itu, maka tak saya bahas. Burung hantu dalam gambar ini adalah jenama kertas tingwé. Ada yang bilang kertas sigaret, atau papier sigaret, lalu ada yang menyingkatnya garèt, dari sigaret, artinya kertas.

Padahal sigaret berarti rokok alias cerutu kecil. Ya, seperti sebagian wong Jawa lawas bilang batré, dari lampu baterai, yang berarti lampu senter atau sentolop. Lantas buat apa kertas sigaret yang saya dapatkan gratis ini? Untuk menggambar secara dadakan, seperti tampil di pos ini dan itu. Sudah sekian dasawarsa prei menggambar sekadarnya, kini karena bosan mencoba AI saya ingin menggunakan kecerdasan alami berlevel rendah.

2 Comments
Semalam jalan ke pinggir hutan mencari Celepuk reban (Otus lempiji), tidak dapat, suaranyapun tidak terdengar. Semoga malam ini burung hantu ini muncul.
Semoga bersua banyak kaum kukila atau paksi