
Surat pembaca Kompas (Rabu, 23/7/2025) ini menarik. Isinya keprihatinan terhadap apresiasi gamelan di SD, sekaligus usul agar pendidikan musik gamelan di sekolah dibuat merata. Saya setuju, dengan catatan hal itu diterapkan untuk sekolah yang tradisi musikal daerahnya memang mengenal gamelan.
Saya membayangkan sulit bagi setiap sekolah kalau harus memiliki seperangkat gamelan, belum lagi masalah perawatannya. Gamelan lengkap itu mahal. Padahal ada sekolah swasta — SMP, SMA, SMK — yang untuk memiliki lapangan basket saja belum tentu mampu.

Memanfaatkan sanggar yang difasilitasi pemerintah daerah? Mungkin bisa. Lebih bagus kalau oleh sanggar partikelir, seperti halnya tari, namun disubsidi oleh pemkot dan pemkab. Kalau terjadi korupsi bagaimana? Wah, baru membayangkan saja saya sudah mumet. Kasus sanggar fiktif Dinas Kebudayaan DKI Jakarta adalah contoh. Ini seperti dulu, ada bantuan dana untuk ormas samar-samar yang hanya punya kop surat dan stempel.
Surat pembaca tersebut dimuat berbarengan dengan foto berita Festival Gamelan Yogyakarta ke-30, bergambar gamelan elektronik, Gameltron 2.0. Tentu, sebelum ke ranah musik elektronik, penguasaan dasar musik akustik tetap harus. Tetapi lagi-lagi soal biaya. Pilih makan gratis yang semoga bergizi, dan bukan sekadar proyek, atau musik? Embuh.

¬ Gambar gamelan: Blibli

4 Comments
Waktu zaman saya sekolah, sekolah yang punya ekskul gamelan cuma Santa Ursula 😀
Angklung mungkin lebih terjangkau, Bang Paman.
Btw barusan ada berita lagi 200 anak keracunan MBG 🙁
Sanur juga punya marching band bagus. Dalam kontes nasional GPMB, anak-anak itu mengalahkan kelompok tambur universities
Kalau boleh minta, saya minta sekolah harus punya lapangan bermain.
Betul. Di kampung padat ada saja sekolah bahkan PAUD yang minim fasilitas, sementara fasum tidak ada.