
Belakangan aku merasa makin banyak berita buruk. Faktual sekaligus menyedihkan. Banyak itu seberapa sering dalam sepekan bahkan dalam sehari? Aku tak bikin analisis konten, aku bicara impresiku karena tak semua hal harus dikuantifikasi. Untuk membuat analisis sok ilmiah pun, ala saintistik, bukan saintifik, aku tak mampu.
Berita dalam negeri. Berita luar negeri. Aku merasa tak ada yang bagus. Misalnya aku mengikuti berita olahraga mungkin banyak yang menyenangkan hati.
Ya, berita seputar musik dan film, yang aku lihat sekilas, tampaknya tak menyedihkan. Untuk Indonesia, berita seputar royalti dan hak ekonomi komposer masih simpang siur.
Untuk berita saintek atau iptek ada saja yang bagus, dari pemanfaatan rumput laut oleh petani garam di Madura hingga identifikasi spesies baru di beberapa pulau.
Berita politik dan ekonomi hanya membuat kesal. Percuma para guru mengajarkan kewarganegaraan kalau praktiknya jauh panggang dari api. Berita korupsi menjadi rutin, kentut tak jauh dari mulut.
Atau mungkin aku gagap menapaki lajur perjalanan zaman?
Ada nasihat jangan mengikuti berita. Sedangkan untuk mengonsumsi konten di medsos, lihat saja yang apa pun ringan supaya selanjutnya algoritma memilihkan hal yang enteng.
Ketika dunia menjadi menyebalkan, usahakanlah untuk tak sebal terhadap diri sendiri.

2 Comments
Itulah Indonesia jaman now, Pamanku….
Ya gitu deh