Tahap praksis sang kiper

Wajar, banyak istilah yang sulit dicerna, kemudian medsos menekuknya.

▒ Lama baca 2 menit

Wadah plastik Praxis Keeper Lion Star — Blogombal.com

Saya tersenyum saat mencuci wadah plastik karena teks pada stiker produk ini: Praxis Keeper, bikinan Lion Star. Kalau saya Indonesiakan menjadi kiper praksis. Saya juga tersenyum karena teringat komentar Lik Jun bulan lalu, mencontohkan ucapan masa silam: “Mbahmu kiper!

Karena kini jarang bergaul untuk terpaksa mendengarkan orang meracau ndakik-ndakik, saya tak tahu apakah istilah praksis masih laku. Di media sosial saya beroleh kesan praksis jarang disebut. Di X saya dapatkan dua sampel, dari cuitan Bre Redana dan penerbit Komunitas Bambu milik J.J. Rizal.

Praktik dan praksis itu berbeda. Praktik menyangkut penerapan pedoman. Praksis, kalau saya sederhanakan, adalah tahap setelah permenungan niat menerapkan gagasan untuk menuju tindakan. Atas nama pemijakan pada suatu paham pemikiran, takkan ada aksi tanpa melalui praksis.

Dulu, abad lalu, saat wacana teologi pembebasan masih membahana, seorang pendeta Protestan mengingatkan anak muda, sebelum sampai aksi harus ada tahap kontemplatif kemudian praksis. Semuanya harus matang, jangan ngasal tanpa hirau konteks sosial.

Eh, apa tadi, wacana? Istilah ini luas diterima pada 1980-an sebagai padanan untuk discourse yang ditransliterasikan menjadi diskursus. Saat itu wacana dianggap istilah baru, padahal di Salatiga, Jateng, ada Universitas Kristen Satya Watjana sejak 1959 — menggantikan nama PTPG Kristen Indonesia yang dipakai sejak 1956. Wacana dalam nama universitas diambil dari bahasa Sansekerta, dimaknai sebagai sabda Tuhan atau firman.

Pada 1980-an, ketika di UGM Yogyakarta ada Pusat Antar-Universitas (PAU), saya menanya seorang mahasiswa yang membuat video di sana, “Bahasa Inggrisnya PAU itu Inter-University Center. Kalo ada Pusat Antarkursus di Yogya, bahasa Inggrisnya apa?”

Sampai kini wacana sangat laku. Bisa diartikan apa saja, sejak usul sampai ide, dalam arti gagasan prematur nan sumir. Media berita terlembagakan dan kemudian media sosial memaknai demikian.

Di media sosial, bahasa menemukan pemaknaan baru. Misalnya istilah estetik, tepatnya estetis, yang oleh sebagian orang saya sebut dimaknai “keren dan bersuai dengan selera kekinian“, bukan sesuai dengan kaidah keindahan. Tetapi untuk urusan macam ini, sebaiknya kita bertanya kepada Martin Suryajaya, penulis buku setebal bantal Sejarah Estetika (939 halaman).

Di media sosial pula saya belajar memahami bahasa yang hidup. Misalnya istilah konsep. Ada swafoto orang memakai cangkang ponsel Android mirip iPhone ditanya, “Ini konsepnya apa?” Lalu ada video orang terpeleset entah apa, dikomentari, “Bukan gitu konsepnya.”

Oh, bahasa!

Wadah plastik Praxis Keeper Lion Star — Blogombal.com

3 Comments

Pemilik Blog Kamis 17 Juli 2025 ~ 12.06 Reply

Lha yes to.
Gak tau apakah anak muda sekarang setelah diterpa aneka konten di medsos, terutama video yang kata orang receh, masih suka baca dan memikirkan hal-hal besar. Ndakik-ndakik itu sebenarnya perlu.

Mungkin juga kini hidup semakin bikin capek. Biaya pendidikan mahal, apa-apa mahal, 19 juta peluaang kerja itu sudah diisi AI karena penggagasnya beriman kepada AI tanpa sikap kritis.

Junianto Kamis 17 Juli 2025 ~ 18.51 Reply

Ndakik-ndakik, plonga-plongo, apus-apus.

Maap kalau kebablasen.

Tinggalkan Balasan