Tak ada yang salah dengan konten demi cuan

Media berita sebagai pabrik kata juga cari duit, masa kita nggak boleh?

▒ Lama baca < 1 menit

Program affiliate Shopee, rezeki bermain medsos — Blogombal.com

Hamdan Gandhèn bersungut-sungut, “Liat thread menarik di X taunya cuma kendaraan buat affiliate ke Shopee, Kang.”

Kamso terpingkal-pingkal. Setelah reda dia bertanya,”Terus masalah sampean apa?”

Jawaban Hamdan malah bercabang ke mana-mana. Maka Kamso hanya membatasi kasus di X.

“Di X, konten gambar dan terutama video bisa ambil dari TikTok dan lainnya. Screenshot bisa nyomot dari punya orang…” sahut Kamso

Hamdan menyela, “Apa aja yang lucu, nyangkut gibah nggak penting, atau hasil mutilasi berita yang direkonstruksi ngawur, asal disukai orang, bisa jadi bahan affiliate, kan?”

“Nggak semuanya ngawur. Setelah ada AI ada yang bikin thread berbau sejarah dengan bahasa tertata, bisa membedakan di sebagai awalan maupun kata depan, malah ada yang di bagian akhir ngasih link rujukan. Nggak pake nyebut loe gue, formal banget.”

“Tapi tetap demi cuan, atas nama affiliate kan?”

“Ada yang gitu, ada yang nggak. Dulu aku risi, males nerusin baca begitu ketemu konten affiliate di tengah. Akhirnya ya realistis aja. Aku anggap itu biasa. Orang butuh duit. Malah dari iklan ada lho informasi produk yang aku perlu tahu padahal nggak butuh.”

“Media berita nggak laku. Medsos isinya menyesatkan. Ini emang eranya the death of expertise. Setiap orang bisa bikin konten padahal nggak mutu.”

“Nggak mutu menurut sampean. Buktinya ada yang sampean baca tapi sampean kecewa lalu kapok gara-gara ada konten affiliate. Setiap jenis konten punya pasar. Lagian apa salahnya cari duit pake affiliate? Kalo nyari bayaran sebagai buzzer, nggak paham masalahnya, ikutan membunuh karakter sasaran, yang penting maju tak gentar belain cuan, mungkin bisa dipertanyakan itu etis apa nggak. Jaman Google kena senjata makan tuan, banyak blog cuma main SEO topi item, isi asal comot karena si bloger emang gak pengin jadi penulis, cuma nyari duit sampe ternak blog.”

“Yang salah siapa?”

“Simbahku dulu suka bilang yang salah tuh orang yang dipenjara. Padahal belum tentu.”

“Jadi yang salah para pembuat konten nggak mutu, yang mengabaikan hak cipta, atau penikmatnya?”

“Yang pasti bukan simbahku.”

2 Comments

Junianto Senin 23 Juni 2025 ~ 07.21 Reply

Mbahmu kiper!

Gojek kere djaman doeloe di daerah saya, tatkala belum ada konten, cuan, dan semacamnya.

Pemilik Blog Senin 23 Juni 2025 ~ 09.06 Reply

Semoga sasaran pujian bukan cucu seorang pemain sepak bola.

Lama saya gak dengar mbahmu kiper

Tinggalkan Balasan