Mendua terhadap iklan sembulan

Ya memaklumi dan menoleransi, tapi bisa kesal juga.

▒ Lama baca < 1 menit

Pop-up ads atau iklan sembulan yang sesak dalam situs berita — Blogombal.com

Saya tak mematikan iklan sembulan (pop-up ads) dalam peramban karena pemilik situs atau blog juga ingin membiayai kontennya. Kalau bisa malah untung, dan itu pun tak salah.

Meskipun demikian, kalau sembulan hasil layanan iklan programatik itu terlalu banyak, mengganjal seluruh layar ponsel, saya kesal juga. Sudah bersabar diri dengan hitungan mundur ganjaran (reward), eh muncul lagi di halaman berikutnya. Sejumlah situs web media berita suka begitu.

Pop-up ads atau iklan sembulan yang sesak dalam situs berita — Blogombal.com

Pasti Anda akan bilang, tinggalkan saja kalau iklan menganggu, karena tiada opsi laman tampil sederhana (simplified view). Tentu setiap media tak ingin merepotkan pembaca yang mengakses gratis tanpa login. Pun tak setiap media punya kemewahan menaruh iklan programatik di kaveling tertentu dalam tata letak.

Sebenarnya saya ingin media berita daring tak hanya didominasi pemain tertentu. Setiap media menampilkan konten terbaiknya berupa teks maupun gambar, dengan bahasa yang bagus, kejelasan rujukan, dan penghormatan terhadap hak cipta.

Teman saya bilang ini masalah cuan. Saya kurang sepakat. Karena media milik juragan tajir, dan trafiknya tinggi, pun belum tentu memenuhi harapan saya di atas, mana sesak sembulan pula. Ada apa dengan kondisi bisnis media berita?

2 Comments

Ndik Selasa 17 Juni 2025 ~ 18.14 Reply

Apakah iklan Dan kontennya pada laman berita urusan pwi? Atau KPI? Atau management si lapak berita? Siapa yg handle QC Nya?

Problem iklan sembulan Dan kadang tata letak badan laman semrawut Karena kurang tuntas untuk menjaga Mutu. Hape Dan is termasuk modifikasi terapannya yg dipegang si produsen HP bikin urusan Ini tidak semudah Kita menata potongan kertas Dalam kliping. Ditest di Merk A bagus, tapi bubar di Merk B Dan seterusnya.

Ini tantangan buat mereka, utamanya yg bergelut Dalam sistem penyajian Ini. Ben wae, bayarane biasane wis larang, Kalau rak iso ya mungkin ada alasan lain kenapa Ra iso Ini dibiarkan. Kenyamanan pembaca terutama yg gratisan itu mungkin secara value Lebih murah Dari yg rak iso tadi

Pemilik Blog Selasa 17 Juni 2025 ~ 21.29 Reply

Urusan Dewan Pers kalo yang kurang protes pembaca terhadap berita. Dan mungkin juga konten iklan yang diprotes publik. Kontennya, bukan tata letaknya.

Biarlah kalangan media yang mengatur diri sendiri.

Tinggalkan Balasan