
Lebih dari sekali saya mendapatkan pertanyaan mengapa rumah penanya akhirnya sesak, padahal saat merancang rumah semuanya diperhitungkan akan muat secara lega ruang. Atau, saat membeli rumah jadi semua barang sudah masuk dalam perhitungan. Ibarat perpustakaan sudah punya rencana penyiangan buku.
Pertanyaan macam itu sesat. Saya bukan arsitek. Sok arsitek amatir dan desainer interior dadakan juga tidak. Saya bukan pengamat arsitektur. Pemahaman arsitektural saya seperti banyak orang: cetek.
Tetapi soal rumah sesak, saya memetik tilikan:
- Penghuni rumah tumbuh, yang dulu anak lalu jadi dewasa, kebutuhan barang dan kegiatan bertambah
- Pemilikan barang terus bertambah, dari mebel sampai alat elektronik — selalu kekurangan stop kontak adalah bukti — dan kendaraan, termasuk sepeda
- Jumlah penghuni bertambah, dari pekerja rumah tangga, sanak saudara, hingga menantu bahkan cucu — padahal setiap orang butuh tempat untuk duduk maupun bersila, berbaring, dan juga mondar-mandir
- Barang bertambah terus antara lain karena pemberian atau hadiah, padahal barang membutuhkan tempat menaruh atau menyimpan
- Munculnya barang baru berdimensi lebih kecil berarti kesempatan untuk menambah barang lain; setelah ada TV LED dan laptop maupun komputer desktop ramping, maka tersisa ruang ekstra
Ada saja orang mengeluhkan, teras yang dulu lega kini berisi stok galon Aqua, sepeda, dan sepeda motor. Bahkan karena alasan keamanan, sofa di ruang tamu berbagi ruang dengan motor, terutama malam hingga pagi. Sementara ruang keluarga yang menyatu dengan ruang makan juga berisi treadmill dan sepeda statis, bahkan kursi roda tak terlipat.

Kesimpulannya? Tak terhindarkan, barang kita terus bertambah. Di rumah yang cukup besar saja bermasalah, apalagi di rumah kecil.
Penyebab pertumbuhan barang sulit direm antara lain:
- Penghuni rumah bukan hanya seorang, jika isinya lebih dari satu jiwa maka setiap penghuni punya kebutuhan dan selera berbeda, apalagi jika ada pertumbuhan kebutuhan karena usia kondisi fisik
- Pertambahan penghuni antara lain karena kita adalah masyarakat guyub, rentang keluarga tak sebatas keluarga inti
- Ada banyak panduan untuk membatasi jumlah barang, namun dalam praktik belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan selera penghuni
Jika jumlah penghuni adalah faktor utama, apakah dalam rumah yang hanya dihuni suami istri, atau hanya duda maupun janda karena anak-anak dewasa sudah memisahkan diri, persoalan rumah sesak selesai? Beda rumah tangga beda jawaban. Begitu pun rumah yang diisi orang lajang.
Persoalan orang tua beda lagi. Lebih banyak. Dari rumah bertingkat tanpa lift, lalu suasana sepi, sampai kendala fisik karena usia dan kesehatan. Rumah sepi dengan penyingkiran barang malah makin membuat kesepian. Apalagi jika sejumlah barang yang meskipun tak berguna lagi punya kenangan sentimental historis. Padahal kenangan adalah bagian dari kesadaran. Namun di sisi lain ingatan terus menurun.

