Lampu kekuningan lebih memesona? Itu soal selera

Ada yang suka warna putih seperti neon jadul. Ada yang demen kuning ala bohlam wolfram.

▒ Lama baca < 1 menit

Lampu kekuningan hotel Paramitha Kepuh Yogya — Blogombal.com

Dari teras rumah Yogyakarta saya lihat rona kekuningan penginapan di depan mengisi pemandangan sore. Bagi saya cahaya kekuningan memberi kesan hangat. Kadang malah seperti memoles bagian bangunan dengan kelir keemasan.

Sejak dulu ketika lampu hemat energi non-LED muncul, saya memilih warna warm daylight untuk rumah. Hanya di dapur saya menggunakan lampu cool daylight karena untuk memasak warnanya tampak wajar. Setelah era LED pilihan saya tetap.

Lampu kuning kafe Kedubes Bekasi, Kobek — Blogombal.com
KEDUBES | Lampu kekuningan di kafe Kedubes Bekasi, Grand Galaxy Park, Kobek, Jabar.

Untuk meja belajar dan kerja, apalagi berhubungan dengan menggambar, mestinya lebih bagus cahaya putih. Tetapi untuk meja pribadi saya nekat memakai cahaya kekuningan. Bagaimana dengan layar di komputer? Saya bukan desainer grafis, cukup memakai ilmu sok tahu saat memainkan warna. Kalau mau beneran ya setelan layar harus dikalibrasi dengan memasang tudung.

Rumah di Kepuh, Klitren, Gondokusuman, Yogyakarta — Blogombal.com
DWIWARNA | Lampu kuning dan putih pada sebuah rumah di Yogya dan di latar belakang lampu kuning di rumah tetangga.

Begitulah, ini soal selera. Kini setelah lampu LED kian merasuki kehidupan, pilihan warna lebih kaya. Jalan tengah untuk lampu kekuningan agar tak terlalu kuning adalah natural white. Lebih nyaman di mata ketimbang cool daylight.

Kekurangan warm daylight maupun natural white adalah dengan watt yang sama tingkat suhu kecerlangannya di bawah cool daylight. Kalau Anda suka warna yang macam mana?

Lampu kekuningan di Chandra Baru, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek — Blogombal.com

9 Comments

@sandalian Rabu 21 Mei 2025 ~ 23.54 Reply

Teknologi LED ini memang unik, untuk membuat warna kekuningan perlu meletakkan lapisan suatu bahan di depan LED yang berpendar sehingga menghasilkan warna kekuningan, resikonya kecerlangan berkurang.

Pemilik Blog Kamis 22 Mei 2025 ~ 08.26 Reply

Waktu bikin pos ini saya kau embed twit Njenengan soal lumens (bukan Lumen) tapi ndak nemu.

Kenapa ada anak bernama Lumen, sejak awal saya menduga ada hubungannya dengan si bapak yang suka lampu terutama sentolop.
Lumen adalah cahaya bagi kehidupan di sekitarnya.

Wkt kuliah, belum zaman LED, saya Koleksi sentolop kecil.
Paling mahal ya Maglite, bodi logam, pake halogen

@sandalian Jumat 23 Mei 2025 ~ 12.23 Reply

Saya masih menyimpan 2 Maglite dengan bohlam, belum saya konversi ke LED.

Kadang saya nyalakan dan tertawa sendiri melihat betapa redupnya senter tersebut saat ini di lingkungan urban.

Pemilik Blog Jumat 23 Mei 2025 ~ 17.18 Reply

Di tutup pantatnya ada cadangan bohlam dari pabrik kan?

Ndik Rabu 21 Mei 2025 ~ 20.53 Reply

Psikologi warna om, lepas Dari itu banyak sudah penelitian kesehatan terkait ini. Begitulah semakin Hari semakin banyak pilihan, semakin banyak membandingkan, meneliti, merumuskan dan akhirnya ilmu berkembang. Apakah Dulu jaman senthir banyak juga yang meneliti beginian?

Pemilik Blog Rabu 21 Mei 2025 ~ 22.37 Reply

Pada zaman senthir mungkin sudah tapi ya sebatas bagaimana supaya api dian ndak bikin blereng 😇

@sandalian Rabu 21 Mei 2025 ~ 23.57 Reply

Salah satu produsen lampu badai di Jerman waktu itu berpikir keras bagaimana agar pembakaran efektif namun tetap awet bahan bakar minyaknya.

Sebelumnya, masalah saat itu adalah lampu menyala sesuai harapan tapi boros bahan bakar.

Pemilik Blog Kamis 22 Mei 2025 ~ 08.43 Reply

Waaaaa ini info bagus. Suwun 🙏

Tinggalkan Balasan