Pohon pepaya di tepi jalan, siapa yang akan memanen?

Tanaman buah di lahan bukan pribadi tak dapat disebut tanaman liar.

▒ Lama baca < 1 menit

Pohon pepaya di tepi jalan, siapa yang akan memanen? — Blogombal.com

Jangan biarkan tanah kosong cuma menjadi belukar rimbun tak terawat. Maka di banyak kampung dan kompleks ada saja warga yang memanfaatkan sisa lahan untuk aneka tanaman, berupa bunga maupun pohon buah.

Yang terbaru saya lihat adalah pohon pepaya di pinggir lapangan basket sebuah kompleks. Beberapa bulan lalu pohonnya belum tinggi, namun kemarin sudah jangkung dan berbuah. Masih hijau semua sih.

Lalu nanti setelah pepayanya matang, siapa yang memetik? Saya berpengandaian pihak yang paling berhak adalah rumah di seberangnya, karena penghuni rumah itu yang menanam dan merawat taman. Saya tak tahu jika yang ditanam adalah pohon durian lezat, akankah muncul sukarelawan pemetik?

Pohon pepaya di tepi jalan, siapa yang akan memanen? — Blogombal.com

Di kompleks saya ada orang yang menanam pohon mangga di luar pagar. Dia biarkan siapa pun mengambilnya. Dia juga pernah menebar anak belut di got sebagai predator jentik. Tetapi warga tempat lain datang membawa senter, memanen belut itu.

Perihal tanaman buah, jika daunnya berada di atas halaman tetangga, berlaku kelaziman setiap kali berbuah maka tetangga yang direpoti daunlah yang berhak memetik buah.

Di Cimahi, Jabar, saudara saya menanami tanggul kali depan rumah dengan sayur, pisang, mangga, dan bunga. Dia pula yang memanennya. Tetangga lain menggarap tanggul sesuai lebar tanah yang menghadap rumah masing-masing.

Waktu saya bocah di Salatiga, Jateng, pada garis batas kebun, berupa pèrèngan rendah, ada dua pohon salak masir. Orangtua saya baru pindah rumah. Saya menganggap, sisi yang menghadap kebun saya adalah hak saya. Tetapi tetangga belakang bilang bukan. Saya melihat si bapak belakang rumah turun ke kebun saya memetik salak dengan parang.

Hari lain saya akan mengambil salak, dengan perkiraan sudah banyak yang matang. Tetapi yang saya jumpai ular hitam melingkar sebelum duri-duri salak, perutnya menggembung. Sejak itu saya kapok, tak berani.

Pohon mangga di tepi jalan, siapa yang akan memanen? — Blogombal.com

Tinggalkan Balasan