Ribut dengan penempel stiker sedot WC

Ujian kesabaran itu berat. Semengesalkan apapun seseorang, musuh terbesar adalah diri kita sendiri.

▒ Lama baca < 1 menit

Penempel stiker sedot WC yang tidak tahu adab

Siang tadi gerimis, jalan tak terlalu sepi, beberapa orang berangkat ke masjid. Selagi saya ngobrol di ruang tamu, istri saya melihat seseorang mendekati gerbang, tangannya masuk melalui celah. Saya tak melihatnya karena terhalang pilar. Ternyata pria itu menempelkan stiker kemudian berlalu. Saya pun keluar.

“Hoiii! Sampean masang apa?”

Dia cuma balik badan, “Stiker, Pak.”

“Sini! Harus sampean lepas!”

Dia balik, menghampiri gerbang, melakukan yang saya minta. Misalnya tidak, akan saya kejar, saya teriaki maling, mumpung saya tidak bersarung sehingga lebih leluasa.

“Sampean mau, kalo rumah sampean saya tempelin apa aja?”

Dia diam.

“Tapi kan udah saya lepas, Pak.”

“Saya tanya mau nggak?”

Lalu dia mengangguk.

“Heh, mau nggak?”

“Tapi kan sudah saya lepas, Pak.”

“Mau apa nggak?!”

“Mau…” dia menjawab lirih.

Istri saya menenangkan saya, “Udah, udah…”

Lalu kepada pria 50 tahunan itu dia katakan, “Mas, lain kali minta izin dulu. Lagian jangan ditempel di bagian dalam pintu.”

Dia mengiakan, mengatupkan kedua telapak tangan. Lalu balik badan.

Saya bentak, “Heh! Entar dulu!”

Dia berhenti, balik badan, mendekat. “Jangan lakukan lagi ya! Kalo diulang foto sampean saya bagiin di RT sebagai penjahat!” kata saya.

“Kan udah saya lepas, Pak?”

“Bukan soal itu. Sekali lagi sampean lakukan, saya akan nempel apapun di jidat sampean. Pake bor! Kalo perlu pake paku karatan!”

Dia tak membantah. Saya diamkan.

“Maaf, Pak,” katanya, lalu berjalan menuju pintu gerbang tetangga. Kemudian dia menempelkan stiker pada sisi talang yang menghadap jalan.

Penempel stiker sedot WC yang tidak tahu adab

Saya jengkel. Wong saya ada di ruang depan, kok dia nekat memasang stiker di bagian dalam. Mana tak langsung minta maaf pula.

Kalau dia tak merasa bersalah saya akan memberikan pelajaran, disertai pencerahan soal penghargaan terhadap properti orang.

Sayang, butuh energi untuk itu. Di usia sekarang tidak mungkin. Lebih utama lagi, saya sejak muda tak punya kemampuan membekuk dan melumpuhkan orang. Saya bersyukur.

Misalnya saya mampu, alangkah berbahayanya saya. Dalam kanuragan, musuh terbesar adalah diri sendiri, bukan orang lain.

Yahhh… stiker sedot WC lagi

Stiker Sedot Tinja itu*)

Jangan asal tempel promo

Berguna tapi menjengkelkan

3 Comments

junianto Jumat 7 Juli 2023 ~ 21.10 Reply

Ternyata Paman bisa marah….

Pemilik Blog Jumat 7 Juli 2023 ~ 21.59 Reply

Ada lagunya lho. Bloger juga manusia….

Tinggalkan Balasan