↻ Lama baca < 1 menit ↬

Estetika daun kering kuping gajah di roster pagar

Saya pungut daun kering yang ketika masih segar tentu lebar itu. Sebelum pergi, istri saya memotongya, lalu meletakkannya pada sudut latar.

Ketika akan memasukkan ke kantong sampah, mendadak terbit niat saya untuk meletakkan daun yang sudah susut mekingking akibat terbakar matahari itu ke roster tembok pagar. Klik. Jadilah foto.

Saat melihat hasil saya teringat pertanyaan seseorang yang pernah memergoki saya memotret sasaran yang tak menarik: apanya yang nyeni?

Atau kalau saya perlebar, pertanyaan itu menjadi apanya yang indah? Sulit untuk menjawab selain pokoknya enak dilihat dan mengesankan bagi saya. Bagi orang lain sih embuh.

Persoalan estetika bisa menjadi debat panjang. Saya, jujur saja, tak khatam membaca buku tebal Sejarah Estetika (Martin Suryajaya, 2016), sehingga tak dapat menjawab sepenuh gaya tanpa berbelit. Informasi perihal buku itu sila tengok laman Sarasvati.

Apa yang saya saya yakini enak dilihat, sebagai hasil jepretan ponsel sendiri dalam blog ini, sering kali merupakan pencabutan objek dari latarnya. Saya mempersempit tebar pandang sehingga objek menjadi lebih tertampak, seolah menjadi subjek.

Apa manfaatnya bagi saya? Entah. Saya tak memikirkannya. Belum menemukan alasan.

Saya hanya tahu bahwa iseng menurut impuls itu menyenangkan.

Ada botol dalam sebotol es kopi satu liter

Gula dalam penantian kartu BPJS