↻ Lama baca < 1 menit ↬

Poster apakah Anda masih punya pensil berkaret penghapus?

Pertanyaan dalam judul posting ini menunjukkan dua hal. Pertama: saya orang jadul yang memelihara ingatan tentang perkara tak penting. Kedua: saya mengabaikan kenyataan bahwa kini orang punya bolpoin tetapi belum tentu punya pensil, bahkan menulis pun lebih sering di layar ponsel — kecuali pelajar dan mahasiswa serta guru.

Kemarin saat ke kios fotokopi karena ditugasi istri saya memperhatikan ATK dalam rak kaca. Banyak ragam alat tulis bertinta di sana, namun untuk pensil hanya ada 2B, bermerek Joyko dan Faber-Castell, harga masing-masing Rp2.000 dan Rp6.000 per batang.

Kios itu hanya menyediakan barang yang sering dicari pembeli. Maka di sana tak ada pensil bersetip (dari bahasa Belanda “stuf“, diucapkan tanpa mecucu, sehingga terdengar “stif”), tetapi ada beberapa jenis karet penghapus yang dijual terpisah.

Saya tak tahu jenis pensil yang dipakai anak SD kelas satu sampai dua sekarang, apakah yang bersetip atau bukan. Kalau pensil mekanis atau isi ulang malah ada di kios itu.

Anda masih punya pensil berkaret penghapus?

Lantas saya membatin, kenapa masih ada pabrik pensil bikin potlot bersetip? Apakah mereka sudah mensurvei bahwa setip yang melekat itu pasti konsumen butuhkan dan akan digunakan?

Kalau saya memang masih punya potlot berpenghapus — potlot kita serap dari bahasa Belanda: “potlood“. Saya lupa beli di mana, yang pasti saya jarang menggunakan setipnya. Mencoret tulisan pena maupun pensil itu lebih praktis.

Lalu ingatan saya pun meluncur ke masa kecil. Dahulu lumrah nian apabila ada anak membalutkan karet gelang ke pangkal potlotnya. Untuk apa? Menjadi setip. Maklumlah zaman susah, bahkan dulu masih ada buku tulis dengan kertas bergaris bukan HVS, lebih mirip kertas buram. Jika ditulisi dengan pensil HB hasilnya kurang jelas.

Cara Menandai Properti

Halah jadul, menyerut potlot dengan penmes

Meraut pensil dengan penmes lagi

Pensil dua warna, merah dan biru, diserut dengan cutter

Melatih anak menulis rapi