• Lama baca: 2 menit →

Pensil dua warna, merah dan biru, diserut dengan cutter

Saya memang manusia jadul dengan sejumlah romantisisme. Maka saya kadang masih memakai pensil dua warna, merah dan biru, untuk mencoreti buku. Namun sekarang jarang, karena makin ke sini saya membaca dengan sekilas. Sejak dulu saya memang bukan pembaca tekun.

Pensil saya pilih karena tidak belobor, kalau tinta bisa belobor apalagi jika kertas menjadi lembap. Tinta itu bisa bolpoin, bisa underliner atau pun highlighter, baik bermerek Schwan-Stabilo (sehingga stabilo di Indonesia menjadi nama benda, tapi belum masuk KBBI) maupun Pelikan dan lainnya.

Pensil dua warna, merah dan biru

Pensil dua warna ada dua ukuran. Yang batangnya lebih besar dinding silindernya bersegi enam. Saya menyerutnya dengan cutter karena sekarang tak ada yang menjual pèmès. Hanya di kantor saya pakai pencil sharpener yang ada engkolnya, menumpang sekretaris.

Menulisi pensil agar mudah dikenali

Untuk pensil dua warna saya tidak membuat coakan untuk saya tulisi nama seperti anak SD zaman dulu karena tak ada orang yang butuh pensil merah biru.

Alat tulis yang sekarang sulit dicari adalah potlot tinta. Saya pernah punya. Pensil yang setelah ujung grafitnya dibasahi menjadi seperti tinta ungu — jangan dijilat, rasanya pahit, mungkin beracun — itu dulu sering dipakai pegawai kantor pos.

Potlot tinta untuk pegawai kantor pos

Mungkin dulu, sampai awal 1970-an, bolpoin dan vulpen atau pulpen masih mahal. Di lapak daring luar negeri sebutan potlot tinta adalah indelible ink pencil. Orang Jawa menyebutnya potlot mangsi. Entah siapa yang masih butuh.

Satu lagi pensil yang pernah saya punyai: potlot tukang. Silindernya pipih, isi grafit juga pipih, untuk menulis bisa menjadi tebal tipis. Pensil macam ini dipakai oleh tukang kayu. Ada sedia di lapak daring.

Sumber foto potlot tinta: Swan Island Dahlias

https://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/07/wp-1594520951509-700x700.jpghttps://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/07/wp-1594520951509-150x150.jpgPemilik BlogUmumatk,bahasa,nostalgia,pensil,pensil tukang,potlot,potlot tinta,sejarah,Stabilo,TokopediaSaya memang manusia jadul dengan sejumlah romantisisme. Maka saya kadang masih memakai pensil dua warna, merah dan biru, untuk mencoreti buku. Namun sekarang jarang, karena makin ke sini saya membaca dengan sekilas. Sejak dulu saya memang bukan pembaca tekun. Pensil saya pilih karena tidak belobor, kalau tinta bisa belobor apalagi...Suatu atau sebuah blog?