↻ Lama baca 2 menit ↬

Toilet kedai Kunasi, milik perupa Pramuhendra, Jalan Gandapura, Bandung

Foto ini biasa. Saya temukan di ponsel. Saya memotretnya di tikungan toilet depan area pengasapan tembakau di kedai Kunasi, milik perupa Pramuhendra, Jalan Gandapura, Bandung, Jabar. Fokus foto lebih ke tembok belakang yang berikonkan pria. Lalu foto saya cabut dari konteksnya dan saya manipulasi seolah berbingkai. Tetapi saya tak hendak membahas penyuntingan foto dengan ponsel, melainkan soal lain.

Soal peturasan bersih adalah kebutuhan semua dan setiap orang. Apakah setiap pengguna bisa menjaga kebersihan, itu soal lain.

Dulu di kantor saya di Jaksel yang sering ada acara dan banyak tamu, kamar kecil cepat kotor. Paling menyebalkan jika ada jejak tapak sepatu di atas kloset duduk. Di kantor terakhir, di Jakpus, juga pernah saya jumpai. Akhirnya anak cleaning service yang repot.

Soal BAB dengan jongkok memang menyangkut selera, kebiasaan, dan kenyamanan. Oh ya, tambah satu lagi: kesehatan.

Silakan lompat ke menit ke 2.02. Dokter Henry Suhendra, spesialis ortopedi dan traumatologi, bicara soal BAB jongkok. Dari sisi kesehatan lebih bagus.

Jongkok adalah kebiasaan purba manusia. Mestinya tidak boleh hilang, maksud saya juga di luar urusan BAB. Saya membandingkan, di negeri kulit putih jarang terlihat orang jongkok. Di trotoar mereka berdiri, bisa juga sambil bersandar pada tembok atau pagar.

Di Indonesia, sudah biasa kita melihat orang berjongkok sambil ngobrol. Bahkan di bangku warung, atau malah di kursi kantor, orang bisa jongkok — tentu hanya bisa dilakukan oleh orang yang badannya langsing. Kalau menggelesot sih soal lain, itu universal. Di mana-mana ada.

Berapa military orang yang BAB sembarangan?

Tampaknya orang Asia dan Afrika secara naluriah lebih siap berjongkok. Kalau bersila bagi orang Barat? Saya tak tahu apakah setelah melewati era gua, tenda, atau bangunan rendah macam iglo dan rumah pohon, mereka akrab dengan bersila. Saya punya asumsi ngawur yang menjadi tanya: apakah orang Barat modern akrab dengan duduk bersila setelah mengenal spiritualisme, dan bela diri, dari Timur?

Kembali ke soal jongkok. Saya punya teman seorang antropolog. Ketika dia belajar singkat di Leiden, Belanda, dan ada pelajaran membuat film etnografis dengan kamera film (bukan video) dipegang tangan, mahasiswa Asia dan Afrika bisa menaikturunkan badan secara perlahan, dari jongkok ke berdiri, dan sebaliknya, dengan nyaman, tanpa terjengkang.

Sedangkan mahasiswa Barat tampak kaku dan ada yang limbung. Mungkin kebugaran mereka kurang sip, lagi pula tak ada yang menjadi penari, atlet, dan penempuh bela diri.

Entah mengutip dosen atau menyimpulkan sendiri, teman saya bilang kepada saya bahwa anak Asia dan Afrika terbiasa jongkok, antara lain di atas kloset. Otot dan sarafnya lebih terlatih.

Infografik: Perbandingan kloset duduk dan jongkok

¬ Data BPS tentang rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak (1993 — 2021)

¬ Infografik: arsip artikel Beritagar.id dan Lokadata.id

Simbol nakal, kurang ajar, dan kriminal untuk toilet