↻ Lama baca < 1 menit ↬

Alat bantu seks dan perlindungan konsumen

Iseng mengeklik iklan itu membawa faedah. Tadi saya klik iklan berisi empat kotak secara bergilir. Setelah pemancar Bluetooth sekaligus pengecas ponsel untuk mobil, saya sampai ke lapak alat bantu seks.

Alat bantu seks dan perlindungan konsumen

Tetapi saya lebih tertarik foto dalam kardus kemasan. Ada tanda tangannya. Siapa dia? Saya pun minta bantuan Google Lens.

Ternyata namanya Yui Hatano, aktris video hiburan dewasa. Temuan itu menyajikan ringkasan lema Wikipedia.

Alat bantu seks dan perlindungan konsumen

Lalu eksplorasi foto membimbing ke aneka penyaji, dari bank foto Associated Press dan layanan sejenis, action figure 1:16, wallpaper, sampai aplikasi ponsel. Hebat sekali dia sebagai jenama. Bisa menjadi tambang uang.

Alat bantu seks dan perlindungan konsumen

Kemudian dari media periklanan Branding in Asia saya dapatkan info bahwa wajah Nona Yui ini menjadi tema kartu prabayar transportasi di Taiwan. Saya pernah membaca beritanya namun lupa nama yang disebut dalam warta.

Aktris JAV Yui Hatano untuk gambar tiket kereta api

Baiklah, kembali ke pokok soal: alat bantu seks. Adalah suatu kenyataan bahwa di lokapasar barang itu dijual bebas, tak perlu surat pengantar dari ketua RT dan RW, sama seperti wadah garam dan lada maupun penjebak tikus. Artinya alat bantu seks itu perkakas biasa, tetapi hanya untuk orang dewasa.

Infografik tertipu penjual alat bantu seks harus berbuat apa?

Lalu sebagai barang dagangan, bagaimana sisi perlindungan konsumennya? Pada 2013 saya pernah membuat infografik dan artikelnya. Inti kisah: posisi konsumen lemah jika alat bantu tersebut dianggap ilegal. Di sisi lain terndaikan, kalaupun barangnya legal belum tentu konsumen berani mengeluh terbuka, misalnya melalui YLKI atau Twitter Media Konsumen.