↻ Lama baca < 1 menit ↬

Terserah mau dibilang genangan ataukah banjir, pokoknya air mendatangi tempat yang seharusnya kering, kalaupun basah tetap dapat dilalui. Lalu ketika air datang, sebagai genangan maupun bah, bisa bah jantan, bisa bah betina*, seberapa tinggi?

Secara acak dan sekilas saya melihat foto-foto banjir di Jakarta dan sekitarnya, di media berita maupun media sosial. Banyak yang dramatis, menggerakkan emosi berupa simpati dan empati. Lalu ada satu foto yang datar, biasa, tidak nyeni, namun membikin saya terkesan. Ya foto ini, kebetulan di Kompas.id.

Soal ketinggian air sudah lumrah jika diukur dengan badan orang dewasa: semata kaki, sebetis, selutut, sepaha, dan seterusnya naik terus. Tetapi ketika air datang, dan terus bertambah, padahal tak sejernih kolam renang yang terawat, apakah antropometri masih layak?

Dalam bahasa nan mudah: untuk mengukur ketinggian air, orang tidak harus menceburkan diri atau dibiarkan tercebur. Saya bayangkan, penolong dari perahu karet bisa mudah mengulur kedalaman air. Lho tadi saya bicara ketinggian air, kok sekarang kedalaman air? Nanti kita diskusikan.

Bagi saya inisiatif warga ini layak diacungi jempol. Kreatif. Soal ketinggian peil, sebagai level pijakan setara lantai nol, mungkin tergantung kesepakatan.

*) Bah jantan: banjir permukaan. Bah betina: banjir susulan. Ini istilah arkais.