↻ Lama baca < 1 menit ↬

Mancing di empang, ketimbang mancing perkara di rumah

Di area saya ada tempat pemancingan baru, dengan jalan pintas titian kayu, mungkin menggantikan pemancingan lama yang sudah diuruk dan jadi kluster kecil perumahan. Kedua empang itu sama: pagi hingga senja ada yang memancing.

Di empang sebelumnya, saya lewat pikul delapan malam pun, dalam gelap tampak pelampung menyala dan bara rokok. Di sana, saya pernah memperhatikan orang yang saya lihat pagi masih duduk di lapak yang sama menjelang senja. Mungkin saja saat makan siang dia pulang lalu siesta dua tiga jam.

Mancing di empang, ketimbang mancing perkara di rumah

Saya tak suka, atau belum suka memancing di empang, kali, maupun laut. Membayangkan harus mencabut mata kail dari mulut ikan saya tak tega.

Saya pernah mendengar dari penggemar memancing, lebih baik memancing di empang daripada ribut di rumah karena dibilang istri memancing perkara.

Mancing di empang, ketimbang mancing perkara di rumah

Seorang bapak usia 60, yang saya sapa di empang baru, pagi itu bilang dirinya memancing karena disuruh anaknya, “Katanya nggak baik nganggur, kalo pagi tidur mulu.” Wah, iri juga saya.

Di empang itu saya melihat bapak lain beroleh ikan bawal tawar (Colossoma macropomum) berumpankan ulat entah apa. Terdengar tawa dari bapak lain, “Tunggir!” Saya mendekat. Ternyata yang tersangkut mata kail adalah sirip bawal, bukan mulut.

Mancing di empang, ketimbang mancing perkara di rumah

Memancing di sana bayar Rp30.000 sejak masuk hingga pulang. Ditambah kopi dan rokok ketengan saya perkiraan setidaknya habis Rp40.000. Harga sekilo bawal tawar di penjual ikan Rp35.000β€”Rp40.000, dapat lima sampai tujuh ekor.

Mancing di empang, ketimbang mancing perkara di rumah

Lagi apa, Mang? Mancing, Oom!