↻ Lama baca < 1 menit ↬

Cebong, kampret, dan kadrun dalam politik bahasa

“Yang kemarin ngaco dalam demo sampe aniaya Ade Armando pasti kadrun, Oom!” kata Doni Jolali. Kamso langsung menukas, “Kok kamu yakin? Polisi aja nggak bilang gitu. Media juga nggak. ”

Doni pake sekian indikator yang kalau disimpulkan adalah Muslim, pakai kata-kata Arab, beringas, anti-Jokowi. Kamso tertawa, “Gampang amat jadi kadrun. Pendukung Jokowi aja belum tentu pake alasan sesimpel itu.”

“Aku nggak nyoblos Jokowi. Kalo KTP aku DKI mungkin aku dulu milih Anies. Aku kampret tapi bukan kadrun, Oom! Aku Islam tapi nggak suka pake alasan agama buat hal nggak bener, kayak radikalisme sampe khilafah.”

Kamso menghela napas. Dia ingatkan, sehabis Pilpres 2019 dulu Charles Honoris yang menyebut diri cebong dan Rahayu Saraswati yang bilang dirinya kampret, bikin video berdua, mengajak masyarakat menyudahi permusuhan.

“Lah emang iya. Nggak musim lagi cebong kampret. Kalo kadrun kan emang eksis terus, Oom.”

Kamso membelokkan topik ke demokrasi Amrik. Demokrat adalah keledai, Republik adalah gajah. Media pada bikin ikon dua satwa itu setiap kali Pilpres, “Tapi itu label buat partai, bukan buat capres.”

Lalu Kamso meneruskan, Demokrat dan Republik Amrik nggak menolak label satwa. Di Indonesia, kubu Jokowi dan Prabowo juga begitu meskipun mungkin kesal, “Kalo istilah kadrun kan nggak nggak disukai sama yang dilabeli karena itu peyoratif, merendahkan. Kadal gurun, mengarah ke sentimen rasial ke tokoh tertentu karena lokasi geografis gurun. Emang sih di kawasan lain juga ada gurun.”

“Ya biar aja, Oom.”

“Kamu mau, dikasih label yang kamu nggak suka bahkan benci, apapun etnis panutan kamu dan agamamu?”

¬ Gambar praolah: Shutterstock, Deutsche Welle, Wikimedia Commons

Jadi masalah Ade Armando itu apa?

Ade Armando memperjelas polarisasi

Cebong versus kampret atau versus kadrun?

Rumah cebong dan kadal tanpa kampret