• Lama baca: 2 menit →

Soal cebong dan kadrun tanpa kampret dalam kartun Mice Kompas

Kartun Mice di Kompas hari ini membuat saya merenung. Pertama: setelah Prabowo Subianto, dan kemudian Sandiaga Uno, bergabung ke kabinet Jokowi, mestinya endapan rivalitas Pilpres 2019 di benak pendukung sudah larut, bukan berlarut-larut. Isu cebong lawan kampret mestinya tinggal sejarah ihwal polarisasi dalam dua kali pilpres, 2019 dan sebelumnya, 2014.

Polarisasi itu, dalam arti kalau beda pilihan capres berarti seteru, tak terjadi dalam pilpres-pilpres sebelumnya. Begitu pilpres selesai ya sudah. Saking santuynya, masyarakat bisa lupa siapa saja kandidat yang kalah.

Lalu soal kedua: kartun tak menyebut kampret melainkan kadrun. Kadrun identik dengan pendukung Prabowo. Bisa dianggap bagian dari kampret. Atau bisa juga ada dua lingkaran himpunan, kampret dan kadrun, dengan irisan bertumpuk transparan di bagian tepi.

Bahwa kadrun tak suka, bahkan membenci Jokowi, ya memang. Tapi apakah mereka masih mendukung Prabowo?

Tentang kadrun, saya masih setengah hati menyebutnya. Sebelumnya saya menganggap istilah itu rasis, berisi cap buruk terhadap kaum keturunan masyarakat gurun, atau gaya busana dan produk kultural gurun termasuk bahasa, namun tak berlaku untuk masyarakat Gurun Gobi maupun Gurun Kalahari dan Gurun Taklamakan.

Akan tetapi jika label buruk diterapkan kepada gaya gurun di mana pun, ya tetap saja rasis.

Dulu saya enggan menyebut kadrun. Kini tampaknya terpengaruh. Apakah saya mulai menjadi rasis dengan menancapkan nota pengecualian bahwa banyak WNI keturunan Timur Tengah, atau siapa pun bergaya Timur Tengah, bukanlah kadrun?

Pengecualian dalam prasangka juga bagian dari rasisme.

KBBI, sebagai pencatat kata-kata yang hidup dalam masyarakat, mungkin akan memasukkan kadrun ke dalam lema, seperti kamus bahasa Inggris memasukkan “nigger” dan “nigga” sebagai kata dalam percakapan yang ofensif. Artinya kata tidak santun.

Pemilik BlogKomedi Indonesiahumor,joko widodo,jokowi,kadrun,kartun,komedi,kompas,koran,media cetak,mice,pilpres,Prabowo Subianto,Sandiaga UnoKartun Mice di Kompas hari ini membuat saya merenung. Pertama: setelah Prabowo Subianto, dan kemudian Sandiaga Uno, bergabung ke kabinet Jokowi, mestinya endapan rivalitas Pilpres 2019 di benak pendukung sudah larut, bukan berlarut-larut. Isu cebong lawan kampret mestinya tinggal sejarah ihwal polarisasi dalam dua kali pilpres, 2019 dan sebelumnya,...Suatu atau sebuah blog?