↻ Lama baca 3 menit ↬

Rajin jalan kaki itu baik, memberikan pengalaman visual nan kaya

Saya ditanya orang berbeda, apakah karena suka jalan kaki maka saya acap beroleh gambar dan cerita untuk ngeblog. Jawabannya bisa ya, bisa tidak.

Saya jawab ya, jika bagi saya ada hal menarik untuk jadi posting, dan yang lebih penting lagi saya ingat dan sempat. Di luar itu, umumnya foto saya hapus. Saya sering memotret asal jepret, setelah foto jadi tak tahu akan saya apakan. Tak punya cerita.

Saya bilang tidak, jika jalan kaki hanya satu-satunya alasan untuk memotret. Tujuan jalan kaki bukan untuk ngeblog. Selama dalam rumah pun selalu ada yang bisa saya foto, tapi belum tentu jadi posting. Era orang hanya di rumah selama pandemi adalah bukti dari banyak warganet: mereka tak kehabisan cerita di medsos — tak harus melalui blog.

Memotret objek di rumah untuk iseng, syukur kalau bisa buat blog

Kenapa? Di jalan, tempat umum, maupun rumah sendiri ada saja hal yang baru kita sadari. Pengenalan kita terhadap objek sekitar itu dinamis. Apa yang kita lihat selama bertahun-tahun belum tentu kita kenali sepenuhnya.

Silakan amati sekitar. Jangan hanya melihat layar ponsel saat menjadi penumpang. Sesekali saat di rumah letakkan ponsel. Kalau ada yang menarik baru difoto. Kalau ternyata lupa ya bukan soal. Keseharian kita bukan hanya untuk berbagi medsos.

Memanfaatkan bunga gugur dari pohon tetangga

Memotret di tempat umum untuk blog

Memang jalan kaki, termasuk disambung naik kendaraan, memberikan keleluasaan untuk mengamati sekitar dan memotret. Yang penting ketika berjalan kaki di tempat ramai jangan tiba-tiba berhenti, apalagi hanya untuk memotret. Hal itu bikin orang di belakang Anda kagok dan kesal. Soal etiket di ruang publik sih.

Bersepeda, mengendarai motor, dan menyetir mobil bagi saya tidak memberi keleluasaan tengok kanan kiri apalagi sambil memotret. Harus memakir kendaraan bukanlah perkara gampang. Memotret sambil mengemudikan apapun itu berbahaya, kecuali saat macet total. Dalam kemacetan parah, kalau Anda tak menyetir, bolehlah turun dari mobil untuk memotret, termasuk memotret mobil yang Anda tumpangi. Tapi bersiaplah untuk bergegas menyusul mobil jika lalu lintas menggeliat beberapa gelinding roda.

Memotret mobil sendiri di tengah kemacetan total

Di tempat sepi, misalnya di kampung dan kompleks, tiba-tiba memakir sepeda untuk memotret pun bisa mengundang kecurigaan, terutama jika bukan di wilayah Anda. Apalagi kamera CCTV makin banyak. Perlu diplomasi jika terjebak situasi sulit.

Hiburan keliling di tanah kosong yang sepi selama pandemi

Foto arena hiburan keliling di atas lahan kosong yang sepi saat pandemi makin meluas ini hanya ada satu yang tidak blur. Saat turun dari sepeda lalu mengamati dan memotret, saya merasakan beberapa mata mengawasi saya. Mata saya menangkap sosok dengan gestur siaga dalam gelap. Saya segera menjauh, menghampiri sepeda, setelah sebelumnya mengatupkan kedua telapak tangan di dada dan mengangguk kepadanya. Saya memotret dari luar pagar, di dekat got pinggir jalan, tapi situasi sangat sensitif karena menyangkut nafkah yang tersendat. Misalnya saya saat itu wartawan yang sedang meliput pun harus memperkenalkan diri dulu, lalu minta izin memotret.

Intinya ya kita biasa saja, tetap mengenal takut, sadar batas, paham risiko.

Repot dong? Kadang. Tapi tetap ada peluang. Yaitu ketika Anda menjadi tuan karena orang lain yang mengemudikan motor atau mobil sehingga Anda dapat mengamati sekitar dan memotret.

Foto maneken telanjang di kios nomor 69, Pasar Tanahabang, Jakpus, saya jepret saat istri mengantarkan saya ke Jatibaru, dan arus lalu lintas menyendat. Saya cukup meminta istri menurunkan kaca jendela sebagian. Mobil tetap bergerak.

Adegan telanjang 69 di Pasar Tanahabang Jakpus

Prinsip tuan, juga puan, juga berlaku saat Anda naik ojek, naik taksi, nebeng mobil (jangan lupa permisi kepada pemilik mobil), naik bus, dan naik kereta. Jika Anda memotret interior kendaraan umum, usahakan untuk selalu waspada, terutama terhadap penjahat. Jangan lupa menghargai privasi dan kenyamanan penumpang lain.

Memotret dalam angkot malam pakai kamera saku

Foto-foto lama dalam posting ini jangan dicontoh karena wajah orang tidak disamarkan. Publikasi wajah tanpa izin bisa menjadi ranjau hukum, kecuali bagi media berita dengan alasan demi kepentingan umum. Akbar Tanjung ketika menghentikan peredaran buku Buloggate, awal 2000-an, tidak menyoal konten yang merangkum arsip media, melainkan memperkarakan pemuatan foto dirinya pada sampul tanpa izin. Dia menang.

Mengisi TTS dalam bus Transjakarta

Sebetulnya banyak contoh posting menarik, tapi sayang gambarnya belum dipulihkan. Banyak sekali yang nyungsep karena kecelakaan teknis.

Oh ya, dalam kasus saya yang bukan fotografer, sebelum memiliki ponsel berkamera pun saya kerap mengantongi kamera saku. Era fotografi ponsel ala street photography, yang hasilnya ya cuma layak blog biasa yang non-blog-foto, hanya meneruskan kebiasaan lama.

Anda pasti akan menghasilkan gambar dan cerita lebih bagus. Bukan hanya untuk blog.