↻ Lama baca < 1 menit ↬

Masalah bersepeda malam

Masalah memang senang membawa teman. Lampu depan sepeda saya redup hampir mati, tapi baterai 18650 cadangan telah hilang bersama kapsul toolbox. Sudah begitu injakan pedal kanan kendor, kayuhan saya tak stabil, bertemu jeglongan saya jatuh terganting. Untung mobil di belakang masih punya jarak.

Tetapi saya percaya dan selalu membuktikan: di dunia ini memang banyak orang jahat tapi jauh lebih banyak lagi orang baik. Tukang ojek menolong saya waktu jatuh. Kios oli meminjamkan kunci pas untuk memperbaiki pedal — sayang tak ada yang cocok. Satu kilometer kemudian Mas Sinu, yang baru saya kenal, pemilik bengkel kecil yang hampir tutup, mencoba mengatasi masalah pedal, dan menolak saya bayar.

Satu kilometer kemudian pedal lepas. Saya meminggirkan sepeda, menunggu dapat kesempatan untuk mengambil bagian yang tergeletak di atas aspal. Mobil memberi kesempatan. Kalau motor cenderung tidak. Tanpa kunci saya mencoba mengencangkan sendiri dengan tangan telanjang sambil membayangkan jadi Mr T dalam The A Team. Bisa. Jalan. Kendor lagi. Jadi Mr T lagi. Dan seterusnya.

Perjalanan pulang terasa berat. Saya belum menyerah, tak memanggil ojek atau taksi. Akan menitipkan sepeda di penjual kelapa muda pasti merepotkan karena warung dia tinggal pulang.

Masalah bersepeda malam

Akhirnya saya sampai rumah. Pegal di lengan kiri belum hilang setelah divaksin kemarin, kini ditambah bokong dan pinggang nyeri karena jatuh.

Saat menulis ini di teras, belum mandi, saya geli teringat pepatah pria dewasa kadang seperti anak laki, hanya beda usia. Saya tak melaporkan masalah saya, terutama soal jatuh, kepada istri kecuali nanti dia menanyakan soal lecet dan pincang kecil. Anak kecil juga begitu kan terhadap ibunya?