↻ Lama baca < 1 menit ↬

TAK TEGA LIHATNYA, TEGA MENYANTAPNYA… :)

Hari ini banyak daging sapi dan kambing serta domba. Saya juga kebagian daging, dari keponakan yang berkurban sapi dan kambing. Saya tak tahu siapa yang kebagian torpedo atau titit (eh, dan testis?) kambing. Seperti apa rasa torpedo? Entah. Beberapa wanita bersaksi, “Enak.” Walah. Pernah saya lihat lebih dari sekali wanita cantik melahap torpedo sambil hahahihi. Karena waktu itu sedang ramai kabar John Wayne Bobbit saya pun ngeri jadinya.

Adakah fungsi afrodisiak dalam torpedo? Huahahaha. Masih saja ada yang percaya. Suatu malam, saya melihat seorang calo tanah menyantap dua porsi sate kambing, ditemani dua botol bir, dikelilingi sekitar lima wanita penghibur. “Tambah torpedo! Huahahahaha!” kata lelaki itu. Para wanita cekikikan manja dibuat-buat — dengan nada seperti sulih suara film Indonesia tahun 70/80-an.

Banyak sudah kesalahkaprahan seputar daging kambing dan domba. Jangankan torpedo. Daging kambing saja diyakini bikin hot. Mungkin karena disajikan pedas, banyak rempah, secara panas pula, orang merasa hot. Padahal makan es krim berdua, kalau mood cocok dan peluang mengizinkan eh mendorong, juga bisa bikin hot, sehingga terjadilah hal-hal yang justru tidak diinginkan.

Manakah yang lebih tinggi kolesterolnya: daging kambing (tanpa gajih), daging domba, atau daging ayam broiler beserta kulitnya? Manakah yang lebih berpeluang memacu hipertensi?

Ah sudahlah. Di luar urusan mitos dan kesalahkaprahan, saya tadi menanya beberapa orang (via messenger) tentang ritual kurban. Dalam perspektif yang profan (artinya di luar makna simbolis yang religius), hampir semuanya mengaku tak tega melihat penyembelihan dan pengulitan. Tapi hampir semuanya punya jawaban serupa, “Kalo makan satenya ya tega.”

Hmmm… sate sapi lebih enak daripada kambing. Lebih manis. Adapun kambing guling, sejauh saya tahu, kebanyakan masih prengus. :)

Apa boleh buat tahi kambing bulat-bulat. Selamat berdagingria, jangan lupa untuk selalu sehat.

© Ilustrasi: spirit-of-metal.com