↻ Lama baca < 1 menit ↬

Merakit bekas kotak yang hampir menjadi sampah

Saya lihat papan disandarkan di dekat kotak sampah di luar dapur. Pasti bekas kemasan. Tapi saya tak tahu kemasan apa, mungkin hantaran kemarin siang saat saya pit-pitan pagi hingga sore.

Saya pungut papan itu. Tampaknya ada bilah yang kurang. Saya buka kotak sampah, masih berisi sampah kering, dan tampak dua bilah papan. Lengkap sudah. Lalu semua papan saya bersihkan dengan Clear Mr Muscle, kemudian saya rakit di meja dapur. Mudah. Langsung jadi.

Merakit bekas kotak yang hampir menjadi sampah

Saya coba mengisikan peralatan pembersih seperti rencana semula. Masuk. Tapi tanpa mencoba saya sudah tahu kotak dari papan entah apa namanya itu tidak portabel. Hanya untuk diletakkan dan diisi. Bukan untuk diangkat. Agar berfungsi harus saya lem. Bila perlu tambahkan siku pelat aluminium. Tapi repot.

Teknik penyambungan papan terlalu sederhana. Asal tancap tanpa penguncian sambungan. Kalau saya angkat, hanya dari lubang, pasti dasar kotak akan tertinggal. Kenapa si desainer tak menerapkan sambungan ekor burung dan sebangsanya? Ini teknik kuno. Batu-batu di Candi Borobudur juga ada yang disambung dengan teknik ekor burung, bukan dengan lem dari telur seperti fantasi anak kecil.

Merakit bekas kotak yang hampir menjadi sampah

Saya langsung berkesimpulan, kotak ini tiada guna. Saya panggil si bungsu, menanya itu kotak bekas apa? Dia bilang bekas wadah kabel, “Tapi zonk, Pak. Sambungannya gampang lepas. Akhirnya aku buang.”

Oke, saya tuntaskan niat membuang dengan merakit untuk mempermudah pemulung. Lalu barang saya letakkan di atas tutup bak sampah bersama kotak lain. Sebuah pekerjaan di tahun baru.

Merakit bekas kotak yang hampir menjadi sampah