• Lama baca: 3 menit →

KETIKA BAHASA INDONESIA KIAN MENJAWA.

Tak gendong ke mana-mana. Nanti tak angkut pakai truk. Kalau situ ke sini entar tak jemput. Oh tak kirain situ lupa. Yo wis nanti tak teleponnyaTak gendongnya

Ya, ya, ya. Karena lagu Tak Gendong-nya Mbah Surip (yang menghasilkan royati Rp 33 miliar itu)*, kata “tak” semakin terkukuhkan sebagai padanan “ku”, yaitu bentuk ringkas dari “aku”, tepatnya pronomina persona pertama.

Tak gendong itu ya kugendong. Maka “tak akan kubiarkan pergi” mestinya ya boleh menjadi “takkan tak biarkan pergi”.

Dari manakah kata pungut “tak” sehingga masuk ke dalam bahasa (yang saat ini masih) nonbaku? Dari orang Jawa, termasuk saya. “Tak” tidak hanya berarti “tidak”.

Saya tak (baca: tidak) tahu sejak kapan “tak” itu masuk ke dalam bahasa lisan secara “nasional” — maksud saya di luar Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Seingat saya sih ketika para pelawak Jawa itu, termasuk Srimulat, mengisi acara di TVRI Jakarta (dan belum ada TV partikelir), kata “tak” sebagai padanan “ku” mulai tersiar luas.

Bersamaan dengan “tak“, tersiar pula kata “orang saya…” sebagai pengindonesian “(lha) wong aku…” Repotnya, sejauh saya tahu, belum ada padanan bahasa Indonesia untuk “wong”.

Jadi bagaimana? Saya tak menentang maupun mendukung. Dalam bahasa yang hidup memang terkandung proses saling memengaruhi dan bahkan tarik-menarik.

Hanya saja saya sebagai orang Jawa, yang berpikir dan bertutur dalam cara Jawa yang kacau balau, tetap merindukan sebuah bahasa Indonesia yang lebih kaya, yang tak hanya didominasi oleh orang dan bahasa Jawa.

Tentu saya menyadari bahwa jumlah orang Jawa (yang bertutur Jawa) cukup banyak. Di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timr saja jika digabung akan akan terjaring sekitar 66 juta orang. Itu masih ditambah orang dari etnis lain, termasuk keturunan Cina, yang hidup di ketiga kawasan itu. Hus, rasis ya, kok bawa-bawa keturunan Cina segala? Secara stereotipikal, keturunan Cina di ketiga wilayah itu juga medok dialek lokalnya.

Meskipun begitu, di kalangan penutur bahasa Jawa (yang ketika membatin angka pun dalam bahasa Jawa), terutama generasi saya dan yang lebih muda lagi, kemampuan bahasanya cenderung menurun.

Ada data? Tidak. Setidaknya kesan itulah yang saya peroleh dalam percakapan maupun terlebih tulisan. Bahasa Jawa zaman sekarang adalah bahasa Jawa yang agak mengindonesia karena sudah bercampur dengan aneka serapan.

Dalam kesimpulan yang ringkas sekaligus menggampangkan, dengan merujuk kasus saya: banyak orang Jawa yang tanggung. Bahasa Jawa saya tak sebagus bapak saya, begitu pun bahasa Indonesia saya. Bahkan dalam berbahasa asing pun saya ketinggalan jauh. Jangankan bahasa Belanda dan Jerman (yang memang tidak saya kuasai, padahal bapak saya bisa), bahasa Inggris saya pun kalah dari pengasong di daerah wisata.

Ya sudah, masalahé itu kalo tak perhatè’ké memang gitu, soalé Éndonesa itu sulit, saya sering ndak d(h)ong, jé.  Baiklah tak tanyakan ke Paman Patih Blontank ingkang Mbois saja.

© Foto: Kontan/Warta Kota

*) Menurut taksiran tabloid Kontan (Minggu IV, Juni 2009), royalti bulanan Mbah Surip dari RBT lebih dari Rp 33 miliar per bulan. Pengandaiannya: ada delapan juta pengguna RBT Tak Gendong, dengan tarif Rp 7.000 per orang/bulan, sehingga akan didapat Rp 56 miliar. Jika Mbah Surip berhak atas 60 persen perolehan, maka setidaknya dia menangguk Rp 33 miliar per bulan.
Pemilik BlogUmumbahasa indonesia,bahasa Jawa,blontank,mbah surip,pelawak Jawa,Srimulat,TVRIKETIKA BAHASA INDONESIA KIAN MENJAWA. Tak gendong ke mana-mana. Nanti tak angkut pakai truk. Kalau situ ke sini entar tak jemput. Oh tak kirain situ lupa. Yo wis nanti tak teleponnya... Tak gendongnya... Ya, ya, ya. Karena lagu Tak Gendong-nya Mbah Surip (yang menghasilkan royati Rp 33 miliar itu)*, kata 'tak'...Suatu atau sebuah blog?