↻ Lama baca 2 menit ↬

MENYIASATI ZAMAN UNTUK BERTAHAN.

Kompas pernah menerbitkan dua edisi koran setiap hari

Mulai hari ini koran Kompas terbit dua kali. Yang regular, untuk edisi hari ini, adalah nomor 184 tahun ke-43. Yang versi kembarannya, seharga Rp 1.000 (tanpa harga langganan per bulan), adalah nomor 1 tahun ke-1. Si kembaran seceng itu bernama Kompas Update.

Selebihnya Anda sudah tahulah. Yang pasti terbit kembarnya Kompas ini berbeda dari kasus kembar Sinar Pagi tahun 90-an karena para juragannya berselisih.

Kompas pernah menerbitkan dua edisi koran setiap hari

Suryopratomo, pemimpin redaksi Kompas, dalam pengantar menyatakan bahwa edisi siang itu untuk menjawab kebutuhan pembaca terhadap berita terbaru. Kenapa dinamai Update, “… karena merupakan bahasa jurnalistik yang umum seperti halnya breaking news ataupun stop press.”

Sebetulnya, untuk Indonesia, koran terbit dua kali sehari itu bukan hal baru. Seputar Indonesia sudah melakukannya. Kompas menyusul.

Sulit membayangkan jika dulu, pada era SIUPP, ada koran dua kali terbit sehari, dengan halaman melebihi 12 (kecuali ada bonus pidato presiden) tapi harganya tetap. Regulasi, “kesepakatan”, dan “imbauan” dari penguasa saat itu tak memungkinkan. Cetak jarak jauh pun dulu dipersulit — selain juga modalnya kudu gede. Namun kemudian terbukti, ketika pintu deregulasi dibuka, sehingga tak ada lagi kawin paksa melalui SIUPP, (sebagian) pers daerah — dan “pers nasional yang terbit di daerah” — tetap hidup.

Kompas pernah menerbitkan dua edisi koran setiap hari

Sudahlah, itu masa lalu. Lantas apa menariknya dengan edisi dobel Kompas itu? Ketika televisi, radio, dan internet kian cepat menyiarkan berita, media cetak masih mencoba bertahan dengan segala jurus — termasuk menggarap anak sekolah.

Prinsip dasar — tepatnya: optmisme — penerbit adalah adalah koran bisa dibaca di mana pun dan kapan pun tanpa alat, kecuali dengan kacamata dan lensa kontak (bagi yang memerlukan).

Alasan lain, tentu saja, karena masih ada yang mau membeli ruang untuk memasang iklan.

Bagi kelas menengah di kota besar, tambahan Rp 1.000 (lebih murah dari tarif parkir) selagi makan siang bukanlah masalah. Tapi apakah mereka sudi mengeluarkan itu untuk seeksemplar koran, biarlah pasar yang mencatat.

Yang bagus sih, seperti di negeri lain, ada koran gratis. Setuju?