↻ Lama baca < 1 menit ↬

JANGAN MASUK SENDIRIAN.

gardu pln warisan belanda

Mungkin inilah yang namanya seni merawat warisan. Di Salatiga, PLN mengubah warna semua gardu ANIEM warisan Belanda sesuai identitas korporat. Boleh jadi agar sosok si gardu, sebagai tetenger (landmark), tetap kentara seiring kesesakan kota.

Seperti halnya di kota lain, gardu-gardu itu juga sudah mengalami gonta-ganti warna sesuai selera penguasa setrum lokal dan mungkin birokrat kota. Pernah putih, pernah krem, pernah entah apa lagi, yang pasti sering menjadi tempat menempel poster tanpa izin dan zonder setor pajak.

Apanya lagi yang berubah? Tulisan peringatan berupa lempeng timah itu sudah tiada. Mungkin lempeng itu dicongkel orang sehingga akhirnya sampai ke kolektor barang antik. Jika benar, itu masih mendingan dibanding lempeng dicor ulang.

Yang saya maksud adalah lempeng yang ada tulisannya “Levens gevaar” dan aksara Jawa “sing ngemek mati” (yang menyentuh [akan] mati) itu. Kartunis G.M. Sudarta pernah memasukkan lempeng klasik itu dalam karyanya.

Apa pun bahasa yang dipakai intinya adalah memperingatkan publik. Nah, setelah lempeng raib digantilah dengan lempeng alumunium untuk kalangan internal.

Namanya juga untuk kalangan sendiri, maka keterbacaan pun tidak penting. Bukankah bekerja secara aman itu bagian dari prosedur? Maka di semua gardu setrum di Salatiga, lempeng itu dicat serupa warna tembok dan pintu.

Jika (tapi semoga tidak) suatu hari ada pekerja kesetrum, maka atasannya akan mencari berkas tes mata saat seleksi pegawai dulu. Setelah itu baru mengubungi rumah sakit dan kepala pengontrol gardu.

Setelah juragan mendengar, maka dia akan menanya desainer grafis soal tipografi, terutama readability dan legibility.