
Saya membayangkan misalnya tadi pagi kepada kasir warung soto saya bilang ambil wedang bligo mungkin bikin dia bingung. Anak saya yang mentraktir saya barangkali juga mengerutkan kening. Dalam data di komputer tidak minuman itu. Demikian pula jika saya mengatakan sudah ambil es kundur kaleng.
Kalau saya bilang winter melon kemungkinan mereka paham. Saya sendiri belum pernah merasakan minuman winter melon karena entah kenapa tak berminat. Saya memang ndhésit, lebih suka teh tawar hangat, teh lemon hangat tanpa gula, dan air putih.
Saya sudah lama tahu, namun belum pernah melihat buah winter melon alias bligo, dan baru belakangan tahu nama lainnya adalah kundur. Saya tahu bligo dulu sewaktu masih kuliah ada desa bernama Bligo, di Ngluwar, Magelang, Jateng.
Saya ingat dulu berangkat dari rumah sore, melewati Jalan Gejayan, Jogja, belok ke Selokan Mataram, ke arah barat, terus, akhirnya sampai Bligo, sejauh 30 kilometer lebih. Pulangnya malam, lampu motor padam, untung terang bulan. Karena nama desa itu saya jadi tahu bahwa bligo adalah buah untuk sayur. Namun saya belum pernah merasakan sayur bligo.
Sekira 2021, saat masih pandemi, saya mendapatkan oleh-oleh manisan bligo, warnanya jambon tua mendekati ungu, rasanya aneh, cuma manis gula dan entah apa. Baru tadi pagi saya tahu ada minuman kaleng winter melon. Oh, ternyata bligo bisa untuk minuman.
Misalnya saya bertamu ke rumah orang Jawa dan tuan rumah menanya saya dalam bahasa krama, “Punapa Panjenengan badhé ngersakakên kundur?”, mungkin saya merasa diusir. Pertanyaan itu berarti apakah Anda ingin pulang? Kundur berarti pulang.
Lalu apa masalah yang ingin saya sampaikan dalam pos ini? Begitu banyak buah yang kita tak tahu namanya. Atau Anda tahu tetapi orang lain tak tahu. Misalnya Anda bilang persik, orang lain hanya tahu peach — kalau Persik itu klub sepak bola Kediri, Jatim. Saya lebih tahu grapefruit ketimbang limau gedang.
Adapun timun suri baru saya kenal setelah saya di Jakarta, banyak dijual di pinggir jalan, pada 1990-an. Sedangkan pohpohan juga saya kenal setelah saya di Jakarta. Pohpohan memang sayur, kalau tanaman timun, timun suri, labu siam, bligo, juga tomat, itu buah atau sayur?
Ihwal tomat, ada pula tomat kurma yang membingungkan. Kalau tomat itu buah ataukah sayur, urusannya sampai Mahkamah Agung Amerika Serikat.
Omon-omon soal buah, karena ketersediaan beraneka buah (impor), dan kemudahan mengakses informasi, akhirnya makin banyak orang tahu bahwa pomelo adalah jeruk bali, dan persimmon adalah kesemek. Kalau burahol Anda tahu? Bagaimana dengan kepel?
Nah, untuk bligo bin kundur saya menduga tak semua orang tahu — namun saya berharap dugaan saya keliru. Di Malaysia, manisan bligo disebut kundur manis.


3 Comments
saya mengira wintermelon itu blewah.. 😅
pas awal-awal pindah, saya sempat mengira grapefruit itu sejenis anggur.. ternyata beda..
terus soal kesemek, di sini sebutannya Kaki, ternyata memang dari nama latinnya..
terus ada juga tomat ceri, tomat kecil-kecil asem..
Waktu kecil sering melihat bligo di rumah tetangga, katanya untuk disayur atau dijadikan minuman.
Tapi sampai sekarang saya gak ingat apakah pernah menikmatinya sebagai makanan. Atau mungkin pernah makan namun tidak tahu kalau ada bligo di dalam sayur di piring.
Nah. Yang mempelajari jelajah lidah kita adalah pergaulan dan warung. Saya doyan pedas sambal, bukan nyeplus lombok, tapi gak pedas amat, karena sering makan di rumah pacar waktu SMA. Setelah kuliah sering makan di warung ya kenal macam-macam makanan. Tapi tidak termasuk bligo.