↻ Lama baca < 1 menit ↬

Tadi pagi di grup WhatsApp eks-sejawat, seorang monsieur yang kini tinggal di Matesih, Karanganyar, Jateng, mengirimkan foto pohon kepel sedang berbuah. Buah langka, kata saya. Sampai saya kuliah di Yogya, di seberang rumah saya, artinya halaman rumah Mbah Kakung, masih ada beberapa pohon kepel.

Tapi kata si Monsieur, yang fasih berbahasa Inggris, Prancis, dan Jerman, tapi tak ada yang memanggil dia Mister maupun Herr, di kampungnya masih banyak.

Lalu saya tengok di Google. Ternyata banyak penjual, baik buah (dari Sleman ditawarkan secara daring, Rp50.000 per kg) maupun bibit. Bahkan di eBay Australia ada yang menjual bibit si kepel bin burahol alias Stelechocarpus burahol di Cairns, Queensland. Namun si penjual tak melayani pengiriman ke Tasmania karena regulasi karantina tetumbuhan.

Saya saja yang kurang wawasan menganggap buah itu sekarang langka, atau kurang dikenal. Dari pancarian daring saya jadi tahu bahwa kepel pernah diprangkokan pada 1998. Pada 2010 si kepel diprangkokan lagi, bersama perkutut jawa (Geopelia striata), dengan desain lebih bagus. Jika menilik peta dari laman EOL yang berumah di Smithsonian, tampaknya si kepel hanya ada di Indonesia.

Dari Intisari saya beroleh info bahwa nama burahol dari Pasundan namun di sana para putri kurang suka karena dagingnya sedikit.

Kalau putri keraton di Jawa Tengah, seperti pernah saya tulis, memang nenyukai. Maka Intisari menyebutkan, dalam masyarakat feodal Jateng, rakyat jelata dilarang meniru keraton menanam kepel.

¬ Foto-foto: pohon kepel oleh Ibnu Basori; prangko: Wikimedia Commons dan EOL