
Dari arah agak menyamping, tulisan beraksara Latin dengan langgam hanacaraka ini sulit dibaca, apalagi teksnya kurang kontras dengan latarnya. Tertulis di situ: Omah tombo ngantuk. Omah itu rumah. Adapun tamba, dilafalkan tombo kalau tanpa akhiran, adalah obat.
Tetapi di ruang yang ditandai obat mengantuk itu lebih sering untuk makan, bukan ngopi. Saat buka puasa bersama pasti meja panjang di kedai orang Minggiran, Yogyakarta, di Jalan Kranggan, Kobek, Jabar, yang beristrikan orang Surabaya, itu sudah tertempah. Ya, bukan Kranggan di kulon Tugu Yogya.

Tanda panah di taman untuk ruang makan kedai tersebut menunjukkan coffee shop. Pantas menyebut diri obat ngantuk. Tetapi keterangan di bawahnya adalah western food. Ada sih masakan lokal, misalnya black beef soup. Artinya rawon daging sapi.
Adapun untuk bangunan di halaman belakang, tanpa AC, berupa pendopo, oleh papan petunjuk disebut pendopo joglo, dengan keterangan untuk traditional food. Namun hingga kini setahu saya belum berfungsi.

Lalu apa tulisan untuk pendopo? Omah tombo luwé. Rumah obat lapar. Mungkin nanti setelah pendopo berfungsi, orang yang mengantuk setelah makan, karena darah lebih mengalir ke pencernaan, akan pindah ke omah tombo ngantuk. Mengantuk setelah makan ringan juga bisa merupakan gejala diabetes.

¬ Bukan tulisan berbayar maupun titipan

4 Comments
ada “Omah Tamba Mlarat” ngga, paman?
Wah itu yang saya dambakan, Zam 👏👍🤣
Baru tahu di Yogya ada Kranggan juga. Kirain cuma ada di Bekasi…
Restonya menarik, Bang Paman.. Banyak ijo-ijonya ya 🙂
Iya. Resoles enak. Rawon enak. Steik ayam barbeku lezat. Nasi goreng juga