
Sejak dulu saya sudah menduga alasannya, namun tak pernah bertabayun. Kemarin pagi saat berjalan kaki ke pasar saya membatin hal yang selama ini saya terima apa adanya, yakni lampu kekuningan (warm white) yang disukai penjual daging ayam dan daging sapi serta kambing.
Penjual fried chicken berkotak kaca di pinggir jalan kampung juga menyukai lampu kekuningan. Ketika menggunakan lampu sorot kecil halogen, penjual ayam goreng terpaksa memilih yang putih karena pilihan terbatas. Yang pasti kotak kaca lekas panas.

Sebelum ada bohlam hemat energi, yang kebanyakan berwarna putih (cool daylight), bohlam berfilamen umumnya berwarna kekuningan.
Setelah ada bohlam hemat energi yang mengandung merkuri, dan kemudian LED, ada varian warna gradasi putih ke kuning. Yang nilainya di tengah, tak terlalu kuning, adalah natural daylight.

Akan tetapi banyak pedagang daging meneruskan tradisi bohlam, bahkan lampu LED kekuningan pun masih ditudungi tas keresek merah agar nur lampu yang menerpa pembelanja berbias jingga, sekalian supaya mereka tak silau. Pada era petromaks, warna lampu juga kekuningan.

Saya menanya beberapa penjual daging sapi dan ayam di Pasar Kecapi, Jatiwarna, Pondokmelati, Kobek, Jabar, soal warna lampu. Jawabannya sama: kalau menggunakan lampu putih, termasuk neon, warna daging akan pucat. Tetapi bagi penjual ikan dan sayur, warna lampu putih lebih disukai, karena dagangan tampak lebih segar.

Dulu pada zaman fotografi film, cahaya kuning dan putih langsung ditangkap oleh emulsi film karena belum ada automatic white balance seperti pada kamera digital. Bahkan untuk foto yang diterangi neon, namun tanpa bantuan lampu kilat, warna lampu dan subjek bisa kehijauan — padahal mata memotret tak menangkap warna cahaya itu. Maka dulu filter lensa, misalnya FL, bisa membantu memberikan warna yang wajar.

Apakah warna kekuningan dalam jepretan saya di pasar dan jalan kampung itu jujur, sesuai kamampuan ponsel kamera saya dalam penyetelan otomatis? Tidak.
Sebenarnya dengan setelan otomatis seperti biasanya saya memotret pun bias kuning tetap terasa, namun saya sengaja mengaktifkan efek warm bawaan ponsel agar efek warna kuning, bahkan jingga, lebih terlihat.
Saya melakukan dramatisasi gambar namun tetap memberi kesempatan dinding meja porselen pedagang daging bersemburat biru karena cahaya pagi dan cahaya lampu putih, supaya ada perbandingan warna, seperti maksud judul dan cerita.
Namanya juga dramatisasi, sehingga hasilnya tak sealami yang terlihat mata saya di lapangan. Tentu dengan hasil jepretan otomatis ponsel saya, apalagi low-end, hasilnya bisa berbeda dari bidikan ponsel lain karena faktor teknis bawaan dan… manusia di belakang kamera. Dalam dua pasal itu saya menyerah.
- Lampu kekuningan lebih memesona? Itu soal selera | Ada yang suka warna putih seperti neon jadul. Ada yang demen kuning ala bohlam wolfram.
- Nah, cahaya kemuning lebih memesona, kan? | Dalam interior yang tepat, lampu kuning menghadirkan aura keemasan.
- Warung lampu kuning dan romantisisme nostalgia | Justru dalam gelap pekat malam setitik cahaya akan menampak. Seperti zaman senthir.
