
Dari kejauhan, bias sinar kekuningan warung ini tampak kentara saat malam. Memang tak semua lampunya kekuningan, namun strip LED yang ditambahkan membuat nuansa kuning lebih terasakan oleh mata.
Pendar lampu kuning mengingatkan saya pada masa silam, sebelum ada listrik, dan misalnya sudah ada listrik tak semua teras rumah maupun warung belum memasang neon lampu TL yang sinarnya keputihan. Bahkan lampu jalan pun dulu menggunakan lampu pijar.
Dulu, dalam perjalanan malam antarkota, dan terutama antardesa, banyak teras rumah dan warung memasang bohlam pijar, dan ada pula yang memasang petromaks. Di tengah gelap malam, karena tak ada lampu penerangan jalan, cahaya kekuningan memberi rasa lega karena ada kehidupan.
Di desa dulu, banyak bagian depan rumah ada yang dipasangi lampu teplok. Tidak terang namun titik cahaya tampak dari jauh. Jika rumahnya berdinding anyaman bambu, dan pelatarannya gelap, cahaya dari dalam rumah menerobos dari lubang dinding, apalagi jika di dalam ruang ada petromaks. Ah, tetapi romantisisme nostalgik macam itu hanya melekati orang-orang tua yang mengalami listrik belum merata. Saya termasuk golongan itu.


4 Comments
Saya pasang lampu kuning di teras, benar bahwa teras saya paling terlihat di antara teras-teras rumah tetangga yang lain.
Apalagi sekarang banyak tetangga pindah, lampu kuningnya jadi terasa makin syahdu.
Uhuy 💐👍😇
Lalu tetangga bertanya soal lumens lampu kuning dan putih.
Tuan dan nyonya rumah menjawab, “Lumen lagi di dalam, belajar.”
Saya lebih suka warna lampu putih. Warna lampu kuning kadang bikin sakit mata, apalagi warna biru seperti lampu rotator mobil polisi. Untung saya bukan pengidap epilepsi yang bisa kumat karena lampu biru berkedip itu (photosensitive epilepsy).
Kalo lampu biru rotator itu, oh ampun dah. Apalagi mobil kita di belakangnya