Berburu daun pohpohan

Karena Aristides Katoppo saya mengenal pohpohan lalu menyukainya untuk lalapan.

▒ Lama baca 2 menit

Daun pohpohan Pilea melastomoides lalapan segar selain selada dan kemangi — Blogombal.com

Halah, lebay terwelu. Berburu kok daun pohpohan. Lebih mudah memetik daun pohpohan ketimbang daun tembakau segar, kecuali di area kebon mbako. Nyatanya tadi pagi pukul lima lebih sepuluh saya berjalan kaki ke Pasar Kecapi demi daun pohpohan. Setiba di warung tujuan tak ada pohpohan.

“Orangnya nggak nyetor, tadi nelepon,” kata si Mpok.

“Lah kemarin saya dikasih tau buat dateng pagi, pasti kebagian,” kata saya.

Saya kesal tetapi kemudian menenangkan diri. Si Mpok bukan pegawai saya, kenapa saya mesti marah?

“Coba Pak, cari di dalem,” katanya. Saya pun ke dalam pasar, akhirnya menemukan, tinggal sedikit, padahal baru setengah enam. Harga per tiga ikat Rp5.000. Hanya dia, lapak kecil dengan dagangan tak lengkap, yang menjual pohpohan. Warung lain, lebih besar dan komplet, yang juga menjanjikan punya pohpohan setiap pagi, belum buka. Nanti selewat pukul enam dia buka.

Daun pohpohan Pilea melastomoides lalapan segar selain selada dan kemangi — Blogombal.com

Pasar Kecapi, suatu pasar kampung di Jatiwarna, Pondokmelati, Kobek, ada di Jabar. Tetapi sejak dulu tak banyak yang menjual pohpohan. Lebih mudah mencari sawi dan selada, dan tentu ikan asin dan daging ayam.

Saya pernah menulis, kultur masyarakat Pondokmelati dan Pondokgede lebih ke Betawi, bukan Sunda yang menggemari lalap:

Meskipun berada di Provinsi Jawa Barat, warga asli Pondokgede dan sekitarnya tak berbicara dalam bahasa Sunda. Mencari daun pohpohan untuk lalap di tukang sayur dan pasar kampung pun sulit, kecuali memesan sehari sebelumnya melalui WhatsApp.

Maka mencari leunca pun tak mudah. Orang Jawa dan orang Batak di sekitar pasar tak suka lalap. Warung Sunda di permukiman juga jarang, lebih mudah menemukan warung mi ayam dan bakso serta ayam goreng dan pecel lele.

Daun pohpohan Pilea melastomoides lalapan segar selain selada dan kemangi — Blogombal.com

Saya wong Jawa. Mengenal pohpohan setelah dewasa, usia 30+ sebagai bapak muda, di ayam goreng Fatmawati, Bogor, Jabar. Saya langsung cocok. Saat itu saya menggugat dalam hati, di Jateng dan DIY saya belum pernah menjumpai pohpohan, di kebun maupun di atas piring. Jangan-jangan orang Jawa tak tahu lalu membiarkan wedhus menyantapnya. Setelah itu suka, pernah dua kali mencoba menanam dan gagal, termasuk membeli daun pohpohan dan bibit di Tokopedia, dalam paket bonus kompos tahi kambing.

Eh, ralat. Setelah saya ingat-ingat, saya mengenal pohpohan (Pilea melastomoides) saat masih bujang, sebagai pendatang baru di Jakarta abad lalu, dalam sarapan nasi merah dan ikan goreng di rumah Aristides Katoppo (1938–2019). Namun petugas rumah tangga yang melayani kami, saya dan teman-teman yang meminjam lumbung padi berupa rumah panggung di halaman rumah dekat Taman Safari itu untuk menginap akhir pekan, tak menyebutkan nama pohpohan. Leunca juga tak dia sebutkan.

Apa yang terhidang pagi itu kata orang dapur dari hasil kebun sendiri kecuali nasi. Tides, yang berkaus oblong polos dan bersarung Badui, menemani kami sarapan sambil bercerita banyak. Dia bilang, orang sekitar Puncak sehat karena banyak bergerak dan makan sayur.

Daun pohpohan Pilea melastomoides lalapan segar selain selada dan kemangi — Blogombal.com

4 Comments

warm Rabu 11 Maret 2026 ~ 11.56 Reply

lah baru ngeh tulisan ttg pohpohan ini, di Kalimantan juga ga pernah nemu daun ini, paman

Pemilik Blog Rabu 11 Maret 2026 ~ 16.14 Reply

Itulah yang bikin saya penasaran. Orang Jateng dan Jatim yang sepulau dengan orang Sunda dulu juga tak tahu. Kalau tanamannya sebagai perdu pasti ada, tapi mungkin dibiarkan dimakan kambing.

Di Bekasi Barat dan Selatan, yang ikut Jabar, juga susah cari pohpohan. Gerobak sayur hanya bawa kalau dipesan, warung sayur juta jual kalau dipesan. Di Pasar Kecapi, sebuah pasar kampung, saya sering kehabisan karena stok sedikit. Kalau selada sih selalu ada.

mpokb Senin 13 Oktober 2025 ~ 16.39 Reply

Pohpohan perjuangan itu, Bang Paman, saking susah dapatnya 😄
Berarti besok2 bisa janjian dengan warung sayur itu saja hehe..

Pemilik Blog Senin 13 Oktober 2025 ~ 18.53 Reply

Kayaknya harus gitu 😇

Tinggalkan Balasan