
Banyak teman saya yang mencemooh nama usaha berbahasa Inggris tetapi tempatnya tidak representatif, artinya tak mewakili citra yang ingin mereka bangun. Misalnya, mungkin, di pasar becek, seperti di Pasar Kecapi, Jatiwarna, Pondokmelati, Kobek, Jabar. Bagian bawah bangunan untuk kios telur.
Saya dulu termasuk yang termakan sangkaan itu. Namun kemudian saya sadar tak sedikit konglomerat yang mengawali usahanya dari pasar. Apa pun hasil terakhirnya, Sritex Solo dulu berawal dari pasar. Djoko Susanto, pemilik Alfamart, belajar bisnis dari kios rokok di pasar. Kawan Lama Sejahtera berkilat dari kios di Glodok, Jakbar.
Seorang kawan bilang, “Kalo mereka sukses sampai puncak ya nggak diledek. Kalo sok berbahasa Inggris tapi nggak naik kelas ya nggak dianggap.” Wah, kejam betul hidup ini gara-gara nama usaha dan lokasinya.
Tetapi nama usaha dan profesi maupun jabatan memang menyangkut citra. Penjual ayam goreng tepung di kampung menyebut diri fried chicken. Satpamwan lebih senang jika disebut security. Sopir lebih nyaman jika disebut driver. Dalam bisnis media dan komunikasi pemasaran, istilah account executive belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia yang diterima semua orang. Kalau di Malaysia ada eksekutif akaun.



2 Comments
nama adalah doa 🙂
Betooollll 👍🙏💐