
Bosan berteduh di warung sayur, setelah membeli tahu dan tempe, saya berjalan melipir sepanjang jalan yang masih disiram hujan untuk bertemu warung lain dengan niat menyelamatkan diri dari guyuran air. Yang saya temui di pasar kampung itu hanya penjual makanan, misalnya mi ayam dan nasi uduk, padahal sejak siang saya masih kenyang.

Akhirnya di Pasar Kecapi, Jatiwarna, Pondokmelati, Kobek, Jabar, itu saya temukan warung kopi. Banyak kopi sasetan di sana, suatu pemandangan generik di semua warung kopi. Untung si penjual punya kopi bubuk tak bermerek. Saya minta satu, encer, tanpa gula, tersaji di sebelah tas keresek tahu dan tempe saya.
Tetapi kopi itu untuk saya masih terasa kental pekat, robusta pahit asam, dalam gelas kecil beralas pisin. Saya berharap lambung saya tahan, dan untunglah demikian. Oh ya, ada satu hal mengesankan: seorang pria, berseragam ojek, datang hanya membeli permen yang ada dalam stoples di depan saya. Selama ini permen identik dengan anak-anak dan uang kembalian.

Hanya ada satu pengudap di warung itu. Pria lansia itu asyik menatap layar ponselnya yang berposisi horizontal, mungkin menonton video. Warung lain, penjual sayur dan kebutuhan dapur, juga masih sepi. Malam nanti baru ramai terutama setelah subuh. Warung-warung di sana buka 24 jam. Tentu tak semua warung, apalagi toko emas dalam pasar yang saat pandemi melayani penjual anting sebelah.

Pasar ini pasar kampung, sejauh satu kilometer lebih sedikit dari rumah saya. Saya dulu agak kerap berbelanja di sana, berjalan kaki maupun naik sepeda yang ada keranjang lipat nya, misalnya membeli ikan lele atau nila, namun akhirnya keranjang saya ganti ransel Rp35.000. Saat pandemi, warung penjual jeruk peras dan tomat memberi saya satu kilogram gula pasir. Bonus untuk pelanggan, kata si penjual. Selama dua tahun pandemi saya sempat prei ke pasar.

Entah sudah berapa dasawarsa pasar ini hadir. Mungkin sejak 1960-an. Dia seperti pasar tradisional lain, terus hidup apa pun kondisi ekonomi negeri. Saat krisis moneter 1997—1998 dan pandemi kemarin pasar tetap berjualan. Pasar tetap bekerja meskipun negara dijalankan secara autopilot, apalagi kini dengan kabinet tambun, yang biaya makan siang rapatnya sudah naik jadi Rp170.000 per mulut.
Saya terakhir mengudap kopi di pasar pada 2014, dari penjual berbeda, kini sudah menghilang, di sana mendengar orang ngobrol apa saja, dari harga-harga hingga ngrasani pemerintah. Dulu tak banyak orang asyik dengan ponselnya. Kini setiap penjual saat tak melayani pembeli asyik dengan ponselnya, termasuk penjual sayur.

Umumnya penjual di sana, termasuk penjual kopi yang memasang cermin kecil untuk melihat wajah sendiri dan jambulnya, adalah orang Sunda. Dulu penjual sayur di dalam pasar ada juga inang-inang Batak. Pada akhir abad lalu, saya mendapati seorang inang menunggui dagangan yang sambil merengeng-rengeng membaca kertas fotokopian berisi nyanyian dengan not angka, mungkin untuk panduan suara.

Pasar adalah bagian dari potret kehidupan. Begitu juga dengan terminal. Kalau tempat-tempat itu sepi pada malam hari, seperti saat PSBB Covid-19, berarti ada kegiatan yang hilang. Juga berarti banyak keluhan dari orang-orang yang dirugikan.
Akan tetapi tadi, tanpa pembatasan kegiatan, tak banyak orang, tak banyak obrolan membahas kehidupan dan gibah perkauman. Hujan reda, saya bayar Rp3.000 untuk kopi dan Rp2.000 untuk batang pengasapan sebagai teman berteduh. Saya senang, telah beroleh selingan tanpa saya rencanakan.

Saat saya memotreti perabot, penjual kopi memamerkan stiker sebuah satuan militer di bawah tempelan Guns N’ Roses, “Ini stiker asli.” Di republik ini, untuk keamanan bisnis harus punya hubungan dengan aneka korps, dari ormas sampai polisi dan tentara. Tak cukup rakyat membayar pajak lalu mendapatkan perlindungan dari negara.

6 Comments
Pasar kelas Kelurahan di Jakarta bagus-bagus. 2019 pas pertama kali menginjak Jakarta untuk _menetap_, takjub dengan Pasar Kelurahan Cibubur. Lebih rame dan besar dari Pasar Kecamatan di Ngawi sana.
2 minggu lalu, ke Pasar Kelurahan Rawasari yang dekat Rusun itu kembali takjub. Ada lapangan badmintonnya yang baguussss di lantai 2.
Jakarta ini memang beda standarnya.
PD Pasar Jaya bekerja dengan benar karena punya contoh pasar swasta di kompleks besar perumahan kelas menengah ke atas.
Sebagian PKL yang sulit ditertibkan justru membayar uang sewa lapak pada oknum institusi anu dan anu, Bang Paman
Lha ya itu karena negara absen melulu. Negeri aneh atau lucu? Tergantung mood kita saat menilai, Mbak Mpok.
Jadi pengin tahu wajah akang berjambul itu.😁
Lik Jun harus ke sana