
Apa contoh hal tak bermutu di Indonesia? Membahas anggota DPR. Sejak dulu tak berubah. Memang ada anggota yang genah namun itu penyimpangan, bukan sampel representatif populasi.
Anehnya, lima tahun sekali sebagian dari kita memilih wakil rakyat untuk pusat, provinsi, kota dan kabupaten. Artinya para pemilih itu kaum optimis, percaya bahwa keadaan akan membaik.
Kenapa harus ada pileg tanpa batuk dan demam? Pemilihan adalah seleksi. Kalau tanpa seleksi, semua orang akan menjadi anggota DPR dan DPRD plus DPD. Akibatnya, saat pelantikan kapasitas gedung tak muat. Kalau untuk agenda harian sih kursi selalu cukup karena banyak yang bolos, sehingga dapat dipakai bergantian, jika perlu sejam sekali dengan rotasi agar beban bagi kursi merata, termasuk dalam usia pakai.
Jadi anggota DPR itu enak. Gaji plus aneka tunjangan bulanan, menurut simulasi, Rp117,7 juta (¬ Kompas.com). Meskipun taruh kata hanya bekerja lima tahun, mereka dapat pensiun seumur hidup (¬ Hukumonline, 2024).

Bagaimana jika mereka diasramakan tanpa keluarga dalam sebuah menara di Kompleks Parlemen agar beban petugas cleaning service tak berat? Tetap saja banyak yang bolos. Bahkan rapat pembahasan RUU pun tetap di hotel.
Mereka bisa berkilah jadwal padat, tak mungkin menghadiri setiap sidang yang relevan. Hwaduh, itulah perlunya manajemen sinkronisasi agenda. Masa begitu saja tidak bisa?
Atau begini saja, setiap kali anggota DPR akan membolos, mereka bisa menunjuk siapa saja dari masyarakat, tak peduli konstituen atau bukan, pokoknya diundi, untuk mewakili mereka dalam rapat. Yang penting, lema “paripurna” dalam KBBI terbuktikan secara visual supaya tak muncul dakwaan perihal rapat siluman para lelembut.
Bagaimana kalau hasil rapatnya ngaco tak bermutu? Halah, isinya anggota DPR asli saja bukan jaminan kwalitet, jadi sekalian saja berisi orang random.
Mereka, orang-orang acak namun tak berbusana acak-acakan karena memakai jas dan dasi, entah bagaimana perut ke bawah, tak usah diberi honorarium, cukup makanan gratis yang semoga bergizi tinggi namun belum basi karena dimasak dini hari lalu diantarkan siang hari, dengan banyak kerupuk.
Suara serentak segerombolan manusia makan kerupuk itu seperti musik, dalam grafik elektronik tebaran frekuensi, semacam audio spectrum analyzer atau apalah, akan menyenangkan untuk diamati. Publik tak peduli itu legislator tulen atau gadungan, karena anggota DPR juga tak peduli rakyat yang mereka wakili.
¬ Foto kecil (featured image): Antara
¬ Pemutakhiran 20/8/2025, simulasi versi BBC Indonesia:
Pendapatan resmi anggota DPR mencapai lebih dari Rp100 juta per bulan. Nominal ini lebih besar dua kali lipat dibandingkan gaji dan tunjangan anggota DPR periode sebelumnya.
Apa saja tunjangan yang didapatkan anggota DPR? pic.twitter.com/aLjSkNtxgL
— BBC News Indonesia (@BBCIndonesia) August 19, 2025

5 Comments
Membahas soal DPR itu buat saya hanya memancing emosi saja. Harus memilih siapa yang mewakili saya di DPR itu juga bikin marah, alahasil semua saya coblos.
Nah, itu politik jalan tengah. Di mata lingkungan, terutama panitia pemilu, kita tak dianggap golput perusak demoktasi.
Bagaimana kalau mereka dibubarkan saja?
Lha nanti muncul gantinya
🙈