
Tersebab kehausan dan agak lapar saat jalan malam, saya mencoba menyinggahi gerobak tahu gejrot. Saya merasa kekebalan dan kebebalan tubuh saya sedang normal, namun tak berani memesan porsi ngawur dengan pedas ugal-ugalan bin bombongan. Saya bukan maniak pedas berlidah sepatu.

Coba Anda baca lembar menu yang sudah memudar ini. Setelah porsi klenger ada porsi bebas. Porsi jumbo itu pasti untuk karung bergigi, di blog ini istilah itu saya pinjam dari Pak Ndobos.

Sudah sekian tahun saya tak menikmati tahu gejrot. Sakndilalah tadi malam bersua. Saya tak pernah memesan yang pedas ganas, selalu bilang cabai satu, dan garam sedikit, karena saya tak suka asin, tetapi kalau terlalu manis saya enggan.

Saya tak paham kenapa makin ke sini makin banyak orang muda keranjingan pedas. Bukannya pedas yang sangat akan mengenyahkan rasa asli makanan, jadi kenapa tak menggado segenggam dua genggam cabai sekalian, karena rasanya lebih murni? Fluktuasi harga cabai itu bisa gila-gilaan, pernah satu varian cabai sampai Rp100.000 per kilogram. Makan tahu gejrot dengan seperlima kilogram cabai jelas suatu kemewahan — dan juga kegagahan lidah sepatu.

4 Comments
Bocil dan anak muda yang suka pedas ekstra mungkin awalnya ditantang temannya, adu kuat pedas. Entah gimana lambung mereka, huhu..
Mungkin lambung mereka sudah berada praksis, Mbak Mpok.
Saya pernah ditraktir bingung mau makan apa, semuanya pedas dengan rentang level
Saya tak tahan pedas, perut saya sensitif, bisa murka kalau diberi makanan yang pedas, lantas diare. Kadang kalau melihat video orang mereview makanan, lantas ada bagian yang menunjukkan dia menyendok sambal semena-mena, videonya saya skip. Melihatnya pun tak kuat, apalagi memakannya.
Yah, selera orang berlainan. Saya bisa makan dengan sambal dan cabai asalkan terpisah dan pedasnya level terbawah.