
Barang hasil teknologi tinggi yang paling mudah didapatkan saat ini adalah ponsel. Tokonya ada di mana-mana. Termasuk di jalan kecil, pokoknya asal ramai, di sana banyak kios dari warung Madura sampai penjual wadah plastik dan isi ulang parfum, pasti ada toko ponsel.

Harga ponsel bisa lebih mahal daripada laptop termurah, tetapi toko laptop tak bertebaran. Pada zaman radio transistor dan pemutar kaset berjaya, demikian pula dengan televisi, tokonya tak ada di mana-mana. Orang tak merasa perlu gonta-ganti alat hiburan itu. Untuk tukar tambah pun tak semua lapak melayani.

Dengan sejuta rupiah, orang bisa beli ponsel baru. Bahkan ada yang kurang dari itu. Namun membaca tawaran ponsel baru seharga Rp70.000, untuk Infinix Note Pro 40 8/256 bergaransi resmi, saya ragu. Itu tak masuk akal. Harga di tempat lain Rp2,5 juta. Berapakah harga ponsel termahal akan susul menyusul. Tak semua orang butuh iPhone dan Samsung Galaxy S dan Z Fold berspesifikasi tertinggi maupun Xiaomi Ultra 16 Leica yang belum dipasarkan dan Oppo Find X 8 Ultra.

Lapak daring boleh berkibar, namun kios di jalan-jalan kecil tetap bersinar dan los pasar modern tetap bertahan, malah banyak yang menjadikan lokapasar sebagai ekstensi. Namun sejak zaman ponsel biasa, ada hal yang tak berubah: banyak orang suka gonta-ganti ponsel padahal tak rusak. Tukar tambah adalah salah satu cara. Ada juga tukar tambah dengan ponsel bekas.
Itulah gaya hidup. Atau hidup nan bergaya. Biasanya menyangkut barang yang bisa dibawa dan dipertontonkan, termasuk mobil — pun rumah yang tak bergerak namun bisa dipertunjukkan. Tetapi dengan itu pula perekonomian bergerak.

5 Comments
Tentang kios pulsa, sejauh saga tahu, jumlahnya berkurang di Solo. Saya perkirakan itu gegara netizen kian gampang membeli pulsa (dan “kuota internet”) tanpa harus ke kios pulsa melainkan pakai m-banking, Dana, Shopee, dll.
Betul, sekarang beli pulsa dan paket kuota dari ponsel.
Saya pengguna produk Apple, karena menurut saya produknya awet dan tidak rewel. Ponsel saya beli akhir 2019, sementara laptop saya beli tahun 2012, sampai sekarang masih awet dan bebas masalah. Belum berniat ganti juga.
Ponsel saya Samsung entah seri apa, saya pakai sejak sekitar 1,5 tahun lalu, lungsuran dari resto istri saya (dahoeloe dipakai mbak kasir, lebih dari dua tahun), masih berfungsi baik. Sudah pensiun, bokek, cukup pakai lungsuran saja😁.
Sip itu. Saya ganti ponsel karena rusak atau hilang. Ada suatu masa jumlah ponsel yang saya beli melebihi ponsel yang pernah saya miliki.