
Saya sudah lama tahu ada suvenir handuk untuk selamatan orang meninggal. Saya tahu dari lokapasar. Namun melihat sendiri baru senja tadi, pukul enam kurang sepuluh, saat anak saya memesan mi ayam keliling.
Mulanya saya tak dapat membaca tulisan itu. Setelah saya mendekati punggung Mas Mi Ayam barulah terbaca sebagian. Lalu saya minta izin untuk memegang dan merentang handuk kecil itu, sekalian minta permisi untuk memotretnya.

“Ini dari acara slametan di kampung saya, Pak. Sudah biasa orang ngasih kenang-kenangan,” dia berujar. Kampung yang dia maksudkan adalah asalnya, di Jateng sana.
Saya lebih dulu tahu ada handuk untuk selamatan daripada payung untuk acara serupa. Semua itu adalah benda fungsional.
Handuk pertama untuk suvenir acara saya kenal dulu banget, abad lalu, berupa hadiah untuk tetamu resepsi pernikahan. Handuknya kecil, hanya segenggaman, namun setelah direndam air jadi mengembang.
—
