
Malam itu hujan tidak deras namun tiada henti. Saya tetap bertekad pulang jalan kaki hampir satu kilometer, sama seperti saya berangkat sorenya untuk ikut kebaktian di sebuah rumah. Sudah sepekan saya kurang berjalan kaki. Tawaran tamu lain, suami istri, untuk menumpang mobilnya saya tolak dengan sopan.
Nyonya rumah tanggap, segera meminjamkan payungnya, “Ini belum pernah dipake dari dulu. Masih baru, Pak.”
Saya buka payung merah tua mendekati kirmizi itu. Setelah terkembang, tulisannya pun terbaca. Saya bertanya, itu peringatan seribu hari siapa. Si ibu menjawab, itu Eyang W.
Mungkin untuk ketiga kalinya saya melihat payung untuk sebuah acara. Dua yang pertama adalah reuni sekolah. Dan yang ketiga adalah hari peringatan wafat seseorang.
Bagi saya semua cendera mata yang fungsional itu menarik. Pada musim hujan, payung jelas bermanfaat. Saat kemarau juga, asalkan bukan payung bening. Kini, suvenir yang lumrah untuk pelbagai acara, termasuk pernikahan, adalah wadah minuman. Orang menyebutnya tumbler.
Untuk hadiah payung, Anda lebih suka payung lipat atau payung besar?
