
Kemarau mulai memberi sinyal akan memanggang hari demi hari. Berjalan kaki di atas pukul sembilan sudah terasa terbakar. Namun jika menemukan peneduh, berupa naungan rimbun daun maupun bayangan bangunan, pejalan kaki merasa nyaman, padahal hanya sesaat.
Saat kemarau, sisi samping rumah itu meneduhkan. Pertama, saat matahari di utara, bayangan bangunan meneduhkan jalan di sebelah selatan rumah. Kedua, karena ada pohon bugenvil tinggi di depan pagar.

Dari arah selatan, sisi rumah yang seakan-akan berposisi tusuk sate, karena menghadap pertigaan, itu adalah sisi samping. Kebetulan kavelingnya, yang bertetangga RT dengan saya, merupakan hoek atau pojokan.

Rumah itu asri. Sisi luar pagar maupun halaman berisi tanaman. Kini hanya ditinggali seorang ibu sepuh dan seorang putrinya. Setiap pagi ibu sepuh, yang kami panggil Bude, itu merawat tanaman. Suaminya meninggal sekira lima tahun lalu.

Dalam dua gambar pertama di laman ini tampak pintu tertutup. Itu adalah pintu warung. Kadang buka kadang tutup. Isinya tak lengkap, bahkan sedikit. Sejak dulu. Warung hanya untuk menambah kesibukan hari tua suami istri.

Warung itu beroperasi sejak sekitar 20 tahun silam. Dulu agak lengkap namun ada satu hal yang pantang mereka jual: rokok.
Justru karena di depan mereka adalah lapangan basket merangkap futsal, yang menjadi arena bermain remaja, maka mereka tak menyediakan rokok bungkusan maupun ketengan. Saya pernah menulis soal warung itu pada 2010.

