
Ini isu lokal banget, hanya dipahami orang Pondokgede, Kobek, dan sekitarnya. Tentang Djoko Bakery, yang dalam pos 2018 saya sebut roti kebanggaan Pondokgede. Sudah sebulan ini jenama itu berganti logo. Lebih memuda.
Rejuvenasi tersebut selain mengganti logo juga disertai tambahan atribut New. Artinya ada upaya mengingatkan pasar yang telah mengalami regenerasi tentang jenama yang terlahirkan kembali. Hal itu memberi kesan bahwa jenama tidak tidur dan tetap relevan. Dibandingkan 20 tahun lalu, jumlah toko roti di Kobek jauh lebih banyak, masuk ke perkampungan. Di sisi lain, semua minimarket juga menjual roti.

Selama ini Djoko punya dua logo. Yang pertama dengan fon serif, tersematkan pada plastik bungkus roti. Adapun yang kedua berupa fon sans serif, terpasang pada spanduk di atap. Sedangkan Djoko pada papan nama toko menggunakan serif dengan wajah berbeda.

Perihal papan nama toko, tulisannya masih Toko Roti Djoko. Seingat saya penamaan berbahasa Indonesia, saat toko belum menempati bangunan baru, juga di kompleks pertokoan Pondok Gede Asri, dilakukan pada 1995, saat pemerintah dalam merayakan 50 Tahun Indonesia Merdeka mewajibkan jenama dagang berbahasa Indonesia. Maka di Jalan Hayam Wuruk, Jakbar, Suisse Bakery sempat menjadi Roti Suis dan Delicious Bakery menjadi Roti Delisius (¬ Arsip: Nama Asing, 2015).

Nah, soal logo baru Djoko ini membingungkan. Rupa logo pada fasad toko dan dalam toko berbeda. Adapun logo pada bungkus roti tawar saya lihat masih bergaya lama, yaitu berupa matahari terbit. Mungkin menghabiskan stok bungkus.

