Selebaran minimarket ala koran

Saat memegang selebaran Alfamidi saya teringat Koran Tempo, padahal secara visual berbeda.

▒ Lama baca 2 menit

memegang selebaran Alfamidi saya teringat Koran Tempo — Blogombal.com

Selebaran belanja dari Alfamidi ini mengingatkan saya kepada Koran Tempo karena menggunakan kertas koran. Beredisi 1–15 Juli, setebal 12 halaman, selebaran ini memuat ratusan barang, sejak keset handuk Rp44.000 sampai gunting kertas Rp13.700.

memegang selebaran Alfamidi saya teringat Koran Tempo — Blogombal.com

Saya tak tahu apa yang terbayangkan dalam benak banyak orang ketika ada yang menyebut Koran Tempo atau Kortem. Media kertas adalah dunia masa lalu. Serasa sudah jauh mendekam dalam jejak lampau, padahal belum ada satu dasawarsa Kortem berkertas tamat. Adiknya majalah Tempo itu berhenti terbit 31 Desember 2020, saat pandemi Covid-19.

Desain halaman pertama Koran Tempo — Blogombal.com
¬ Kortem edisi 22 Januari 2015, halaman depan masih memuat teks panjang dengan gambar ilustrasi bukan foto, dan bukan hasil AI, agar mendapatkan pose dan ekspresi tokoh sesuai keinginan editor. | Sumber gambar: Behance

Kortem terbit pertama pada 2 April 2001, dalam format kertas koran pada umumnya, yakni broadsheet, lalu mulai 2005 berformat tabloid, nyaman dibaca dalam bus kota dan KRL. Setelah versi kertas usai pada akhir 2020, Kortem hanya terbit versi digital hingga 11 November 2024.

Oh ya, harap Anda bedakan format tabloid dan jurnalisme tabloid. Kortem tak menganut jurnalisme macam itu. Di koran itu saya beberapa kali menulis artikel, ada yang terarsipkan dalam Salinan.

Desain halaman pertama Koran Tempo — Blogombal.com
¬ Kortem edisi 16 Januari 2020, desain halaman depan sudah bergaya poster dengan sedikit teks berita. Gaya poster total kemudian dilakukan oleh Tempo Pagi, hanya ada edisi digital. | Sumber gambar: Tempo.co

Kertas koran itu mahal. Dulu penerbit anggota SPS, tak hanya bikin koran tetapi juga majalah, harus punya perkiraan tahun depan butuh kertas berapa banyak untuk memesan.

Kertas bagus banyak yang impor, dan contoh kertas koran yang jelek murah antara lain yang dipakai Pos Kota. Kertas HVS untuk tabloid atau kertas HVS Finlandia untuk majalah itu mahal.

Kini dalam era media digital tak ada lagi biaya kertas dan cetak, ongkos kirim dan retur, komisi agen dan piutang di agen, serta… biaya gudang. Dulu di gudang sebuah penerbit, tumpukan majalah retur dipotong dengan gergaji bundar, tak sampai terbagi dua.

Lalu kertas produk retur buat apa? Kabarnya didaur ulang, bisa untuk bahan tisu karena korporasi punya pabrik tisu. Tetapi itu ternyata hoaks, karena pabrik tisu menggunakan virgin pulp. Tisu yang kecokelatan bukanlah hasil daur ulang, tak menggunakan pemutih.

Harian Tempo dulu — Blogombal.com
¬ Harian Tempo edisi 24 Agustus 1964. Koran terbitan Semarang, Jateng, ini tak ada hubungannya dengan majalah Tempo maupun Koran Tempo. Koran ini kemudian menjadi Suluh Indonesia edisi Jateng, lalu menjadi Suluh Marhaen. Remy Sylado pernah menjadi wartawan Harian Tempo | Sumber gambar: Shopee

Tinggalkan Balasan