
Selebaran belanja dari Alfamidi ini mengingatkan saya kepada Koran Tempo karena menggunakan kertas koran. Beredisi 1–15 Juli, setebal 12 halaman, selebaran ini memuat ratusan barang, sejak keset handuk Rp44.000 sampai gunting kertas Rp13.700.

Saya tak tahu apa yang terbayangkan dalam benak banyak orang ketika ada yang menyebut Koran Tempo atau Kortem. Media kertas adalah dunia masa lalu. Serasa sudah jauh mendekam dalam jejak lampau, padahal belum ada satu dasawarsa Kortem berkertas tamat. Adiknya majalah Tempo itu berhenti terbit 31 Desember 2020, saat pandemi Covid-19.

Kortem terbit pertama pada 2 April 2001, dalam format kertas koran pada umumnya, yakni broadsheet, lalu mulai 2005 berformat tabloid, nyaman dibaca dalam bus kota dan KRL. Setelah versi kertas usai pada akhir 2020, Kortem hanya terbit versi digital hingga 11 November 2024.
Oh ya, harap Anda bedakan format tabloid dan jurnalisme tabloid. Kortem tak menganut jurnalisme macam itu. Di koran itu saya beberapa kali menulis artikel, ada yang terarsipkan dalam Salinan.

Kertas koran itu mahal. Dulu penerbit anggota SPS, tak hanya bikin koran tetapi juga majalah, harus punya perkiraan tahun depan butuh kertas berapa banyak untuk memesan.
Kertas bagus banyak yang impor, dan contoh kertas koran yang jelek murah antara lain yang dipakai Pos Kota. Kertas HVS untuk tabloid atau kertas HVS Finlandia untuk majalah itu mahal.
Kini dalam era media digital tak ada lagi biaya kertas dan cetak, ongkos kirim dan retur, komisi agen dan piutang di agen, serta… biaya gudang. Dulu di gudang sebuah penerbit, tumpukan majalah retur dipotong dengan gergaji bundar, tak sampai terbagi dua.
Lalu kertas produk retur buat apa? Kabarnya didaur ulang, bisa untuk bahan tisu karena korporasi punya pabrik tisu. Tetapi itu ternyata hoaks, karena pabrik tisu menggunakan virgin pulp. Tisu yang kecokelatan bukanlah hasil daur ulang, tak menggunakan pemutih.

