Penjual buah yang bangga akan pembelinya

Semua bahasa, setidaknya banyak bahasa apa pun, mengenal basa-basi maupun eufemisme sebagai bagian dari adab pergaulan.

▒ Lama baca < 1 menit

Kios buah Barokah membanggakan pembelinya — Blogombal.com

Bacalah kalimat pada kertas terlaminasi di meja kasir kios buah dalam menyapa pembeli: “[…] pelanggan yang saya hormati dan banggakan…”. Sebagai basa-basi boleh juga.

Oh, saya teringat gaya berpidato ketua RT, ketua RW, dan lurah: “Yang terhormat semua warga yang saya cintai dan saya banggakan, dalam kesempatan yang berbahagia ini izinkanlah kami anu anu anu….”

Semua bahasa, setidaknya banyak bahasa apa pun, mengenal basa-basi maupun eufemisme sebagai bagian dari adab pergaulan. Bisa jadi hal itu adalah kelebihan manusia setelah bahasanya makin kaya, mereka menemukan ragam cara menyampaikan maksud, dari menyenangkan dan memuliakan orang lain sampai merendahkan dan menistakan orang lain.

Kios buah Barokah membanggakan pembelinya — Blogombal.com

Tidak bisa, dan tak perlu, penggunaan bahasa di segala kesempatan dan keperluan menggunakan pendekatan instrumental. Kalau dalam bidang hukum, terutama undang-undang dan peraturan tentu perlu.

Khazanah bahasa dalam kedewasaan bertutur menenggang penggunaan kata yang secara harfiah berbeda makna. Kita bilang “minta” kepada pemilik warung padahal membayar. Tetapi mengatakan “mau beli” juga boleh.

Tinggalkan Balasan