
Saya termasuk telat tahu ada istilah nasi cokot. Selama ini saya menyebutnya nasi kepal, cara makannya dengan digigit. Ya, seperti cara banyak orang makan di KFC, nasi yang terbungkus kertas itu digigit.
Tadi saat jalan kaki saya melihat tulisan menerima pesanan nasi cokot. Dalam bahasa Jawa, cokot atau cakot berarti gigit. Maka ada penjual yang menamai nasi gigit. Ada pula yang menyebutnya sega cokot. Sega, dibaca sego, dalam bahasa Jawa berarti nasi. Lalu ada juga penjual yang menyebutnya sekul cokot. Sekul itu bahasa Jawa halus untuk nasi. Maka old skool berarti sega wadhang atau nasi basi

Perihal makan nasi KFC digigit pun saya telat tahu, maklum saya wong lawas. Saya baru tahu awal 2000-an. Saya kalau makan langsung dengan tangan, tanpa sendok garpu, tentu dengan cara muluk, kata kerja dalam bahasa Jawa dari kata dasar puluk, artinya dengan jari memungut gumpalan nasi untuk disuapkan ke mulut sendiri. Tidak digigit.

Ketika muncul nasi kepal, saya langsung teringat onigiri, nasi kepal Jepun. Dengan sentuhan lokal, nasi cokot menawarkan kepraktisan. Tetapi dulu saat pertama kali melihat nasi cokot, saya malah teringat burger karena tak berbentuk segi tiga. Tiada sudut lancip untuk mempermudah akses bagi mulut. Kalau yang dijual di Indomaret memang segi tiga karena merupakan onigiri.
Lalu moral ceritanya apa? Saya memang udik. Sering ketinggalan zaman. Mungkin karena faktor U. Alias golongan old skool.

5 Comments
BTW tadi pagi saat olga jalan kaki, mampir ke lapak mbak penjual nasi cokot, ternyata tutup.🙈
Sudah diborong demonstran?
Ada seorang mbak penjual nasi cokot di sebuah jalan besar yang menjadi salah satu rute jalan-pagi saya. Saya belum pernah beli (dan belum pernah lihat langsung wujudnya kayak apa). Nanti kapan-kapan saya beli, deh.
Kalo ada rezeki, boronglah buat demonstran pas ada demo. Tapi bukan demonstran bayaran yang wajahnya tua untuk mahasiswa, ketika ditanya apa yang diperjuangkan cuma cengar-cengir
Baiklah, Pamanku.