
Tak mungkin orang hafal 144 keluhan medis yang ditanggung BPJS. Selain tak mungkin juga tak perlu. Saya tahu daftarnya saat menunggu sambil berjalan-jalan di puskesmas dari poster terbingkai yang dipasang pada kolom bangunan. Berapa orang yang baca?

Ini bukan masalah puskesmas dan BPJS saja melainkan kantor pemerintah yang langsung melayani masyarakat. Begitu banyak informasi berjejalan, dalam media kertas maupun elektronik. Orang bisa bingung.
Semuanya ditulis dalam istilah kedokteran — tak ada masuk angin maupun greges-greges. Harus begitu. Di masing-masing negeri, istilah medis ketika diinggriskan tak menimbulkan sengketa kebahasaan. Bisa diterima secara universal. Masalahnya, dari 144 gejala itu berapa persen yang kita pahami?
Bagi generasi X dan yang lebih belia, mereka bisa menanya mesin pencari berbasis akal imitasi, tentang gejala penyakit yang mereka rasakan, apakah ditanggung oleh BPJS. Segera tersedia jawaban tangkas dan diandaikan cerdas serta cermat tanpa kepongahan juri dalam kontes di MPR.
Setiap kali ke puskesmas untuk meminta surat rujukan, saya lihat banyak lansia. Ada saja yang gagap urusan administrasi. Untunglah petugas selalu membantu. Banyak dari mereka yang tak menggunakan aplikasi JKN untuk mendaftar layanan.
Pasien yang lebih muda dari usia 55 jarang saya lihat. Wajar, secara umum mereka lebih sehat. Selain itu mereka tak mudah meninggalkan tempat kerja. Namun mereka lebih melek teknologi digital. Saat melihat poster 144 penyakit itu mereka tak perlu menyalin satu dua yang berhubungan, tetapi langsung memotret dan menanya AI.

Kembali ke urusan poster, saya sering melihat dinding ruang kantor pemerintah, yang berurusan dengan masyarakat, penuh tempelan tulisan pada kertas. Poster kampanye kesehatan yang sudah pudar tak diganti. Demikian pula aneka stiker dan papan nama. Kenapa ya? Hanya kepala kantor yang tahu masalahnya.

Hal serupa terjadi pada kotak saran yang tak pernah diperiksa dan stiker petunjuk yang tak ramah orang buta warna. Untuk kotak saran dan penilaian memang bisa digantikan peranti digital, tetapi apakah akan menjadi masukan untuk evaluasi?
Ihwal tomcat dalam judul, saya memang dicintai serangga itu. Dulu saya sering ke dermatolog untuk urusan digigit serangga, alergi, gatal, dan iritasi. Maka dari poster itu yang langsung menarik perhatian saya adalah reaksi terhadap gigitan serangga. Reaksi tubuh itu urusan dokter. Kalau perilaku serangga, itu urusan kepala BGN. Nilai gizi serangga, misalnya belalang, dia juga khatam.

