Angkringan artifisial memberi kesan autentik

Akhirnya penjual keliling lebih suka gerobak, bukan pikulan. Karena lebih hemat tenaga?

▒ Lama baca 2 menit

Angkringan artifisial soto semarang Cipto Roso Puri Gading, Kobek — Blogombal.com

Lumrah di mana-mana. Penjual soto ayam dan sate kambing memasang angkringan, lengkap dengan kain tudung meja racik. Hanya untuk hiasan merangkap meja kerja namun tak pernah dipikul untuk berkeliling menjual dagangan. Di warung soto semarang langganan saya, batang melintang untuk pikulan dari rotan, diperkuat oleh kayu.

Anehnya, banyak angkringan, yang menjual nasi kucing, malah tanpa angkringan, hanya gerobak. Mungkin karena penjualnya bukan wong Ngerangan, Bayat, Klaten, Jateng. Itulah desa asal muasal penjual hékkk di Sala dan penjual wedang plus nasi kucing di Jogja.

Angkringan artifisial soto semarang Cipto Roso Puri Gading, Kobek — Blogombal.com

Penjual bakso juga hampir semuanya tak memasang angkringan. Padahal dulu bakso dijajakan dengan pikulan. Penjual bakso yang membuka warung, tidak berkeliling, malah ada yang tak memasang gerobak.

Angkringan artifisial soto semarang Cipto Roso Puri Gading, Kobek — Blogombal.com

Angkringan itu apa? Dari bahasa Jawa, dengan kata dasar angkring, yang menurut Bausastra W.J.S. Poerwadarminta versi EYD adalah “pikulan dalah sapraboté (kothakan wadhah pangangan lsp) dianggo idêr-idêr bakmi, saoto, wédang lsp.”

Artinya: pikulan beserta perabot (kotak wadah penganan dsb.) untuk berjualan keliling bakmi, soto, wedang, dsb.

Sedangkan menurut KBBI, angkringan dapat berarti “alat untuk memikul; pikulan” dan “gerobak tempat berjualan makanan dan minuman (seperti nasi kucing, susu jahe), biasanya ditempatkan di pinggir jalan”.

Hiasan kepala kambing pada angkringan sate Pak Agus Jalan Hankam, Kobek — Blogombal.com
¬ Hiasan kepala kambing pada angkringan sate. Klik gambar untuk membaca arsip.

Angkringan artifisial atau éthok-éthok yang digunakan warung soto dan sate untuk pajangan akan memberi kesan rasa autentik dagangannya. Seolah-olah tak terputus dari sejarah keluarga penjualnya. Padahal orangtua dan kakeknya belum tentu bakul.

Saya tak tahu pasti sejak kapan angkringan yang dipikul itu mulai digantikan gerobak dorong. Sampai medio 1980-an saya masih melihat penjual soto ayam di Semarang yang masuk keluar kampung dengan memikul warung berjalannya.

Saat saya masih bocah, semua penjual bakso, soto, sate, dawet, ronde, dan tahu guling di Salatiga memikul warungnya. Maka pertanyaan saya, kalau gerobak lebih praktis mengapa sebelum pertengahan 1970-an tak memanfaatkan gerobak? Oh ya, penjual kerupuk dan mindring (tukang kredit alat dapur) juga menggunakan pikulan.

Sempat terpikir, mungkin karena dulu kondisi jalan banyak yang buruk, tak hanya di perkampungan tetapi juga di jalan raya, sehingga gerobak belum menjadi pilihan. Atau karena harga gerobak masih dirasa amat sangat mahal nian, sehingga pikulan menjadi pilihan?

Pikulan penjual kupat sayur di Chandra Baru, Pondokmelati, Kobek — Blogombal.com
¬ Penjual kupat sayur yang masih menggunakan pikulan. Klik gambar untuk membaca arsip.

Sampai sebelum Covid-19, penjual sekoteng di kawasan saya masih menggunakan pikulan. Adapun penjual kupat sayur hingga kini masih masih berkeliling sambil memikul. Sedangkan penjual selendang mayang, yang jarang lewat, sudah sejak lama menggunakan gerobak.

Dari sisi tenaga, tampaknya gerobak soto yang didorong tak terlalu memberatkan jika dibandingkan pikulan. Kuali berikut isinya yakni kuah, ditambah anglo atau kompor, dan mangkuk, serta ember dan dingklik tentu berat. Apalagi kalau membawa tabung gas melon.

4 Comments

mpokb Selasa 5 Mei 2026 ~ 22.39 Reply

Gerobak beroda lebih hemat tenaga, bisa memuat lebih banyak, dan lebih cepat tentunya, Bang Paman. Nah, lebih modern lagi pakai sepeda atau motor, tapi sering bikin kecele pembeli. Baru mau panggil, sudah jauh 😀
Btw yang masih pakai pikulan di kompleks saya cuma penjual kue putu 🙂

Pemilik Blog Rabu 6 Mei 2026 ~ 00.34 Reply

Betooollll. Soal suara motor itu saya pernah menulis kalau nanti semua pakai kendaraan elektrik, para penjual akan mendengar.

Penjual kue putu di tempat saya pakai gerobak.

Tinggalkan Balasan