
Spanduk ini membuat saya membatin, jangan-jangan penjahat lebih takut kepada kamera CCTV ketimbang Tuhan. Tetapi setelah itu saya malu, memangnya saya orang saleh dalam segala hal?
Tentang Tuhan melihat kita, saya teringat ungkapan dalam pekerjaan: God is watching you, give Him the best show. Bondan Winarno (1950–2017), saat mengawali rubrik Kiat di Tempo medio 1980-an, dan sejak itu pula istilah kiat menyebar, pernah mengutip ungkapan berbahasa Inggris tadi dengan menyebutkan sebagai tulisan di ruang kerja pemimpin umum Sinar Harapan (SH) H.G. Rorimpandey.
Pada awal Reformasi, Mas Bondan menjadi pemred Suara Pembaruan, koran penerus SH pasca-bredel. Saat itu via email saya pernah mengingatkan dia kutipan tadi dan dia pun masih ingat.
Tentang spanduk tadi, inilah ceritanya. Tadi siang saat mendung, sepulang saya mengedrop istri di rumah temannya, saya melihat tulisan spanduk pada sebuah pelataran di kiri jalan. Setelah terus berjalan barulah saya tahu tempat spanduk itu di halaman belakang Masjid Al-Ahdhar. Sungguh cocok.

Saya sebut cocok karena di rumah ibadah pun bisa terjadi tindak kejahatan. Dari motor hilang sampai uang tunai raib karena dicuri. Ada saja berita kejahatan di masjid maupun gereja.
Saya memutar balik di bundaran setelah masjid, kembali ke lokasi tadi, dan memotret dari mobil. Kemudian saya turun, memotret dari pinggir jalan.
Saya tak berani masuk karena dua hal. Pertama, tidak tampak orang di situ. Kalau saya melompati rantai penghalang kendaraan agar tak masuk pelataran tentu tak sopan karena tak minta izin untuk masuk maupun memotret.
Adapun alasan kedua, saya bercelana pendek dan berkaus tanpa lengan. Kalau saya masuk area masjid dengan melompati rantai, dan berbusana macam itu, lalu memotret spanduk dari dekat tanpa izin, maka lengkaplah ketidakpatutan saya.
Ketika saya usai memotret dari pinggir jalan lalu masuk ke mobil, keluarlah seorang pria dari masjid dan melihati saya. Mungkin dia salah seorang pengurus masjid. Lalu saya memberi hormat, turun, minta maaf dan menjelaskan apa yang barusan saya lakukan. Dia tersenyum, bilang tak apa-apa. Saya terkesan oleh teks spanduk itu.
—
Meskipun mulanya menolak, karena percaya, akhirnya dia bersedia melihat hasil jepretan saya di ponsel. Dia tersenyum dan berkata, “Nggak apa-apa kok, Pak.”
Kemudian saya minta izin untuk memotret spanduk dari dekat. Artinya saya akan masuk ke pelataran dengan melompati rantai. Dia mengizinkan dengan ramah. Terima kasih. Alhamdulillah.




2 Comments
big brother is watching you
Orwell banget 😇