Kabar baik dari SPPG MBG soal belatung sampah makanan

Manggut-manggut soal maggot dan magot. Lalu apakah semua dapur MBG sudah menerapkan?

▒ Lama baca < 1 menit

Budidaya magot di dapur SPPG Aisyiyah - Antara - Kompas — Blogombal.com

Saya termasuk pengkritk MBG dan BGN. Tetapi pagi ini saya membaca kabar baik soal SPPG karena sesuai asumsi saya, bahwa sampah makanan di dapur bisa dimanfaatkan untuk budidaya magot.

Foto Mohammad Ayudha dari Antara, yang menjadi foto berita tunggal di koran Kompas hari ini (Jumat, 17/4/2026), dengan judul “Budidaya Maggot untuk Mengatasi Masalah Sampah Dapur SPPG” menuturkan:

Pekerja mengambil maggot untuk pakanternak di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA), Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (16/4/2026). SPPG tersebut mengatasi persoalan limbah organik sisa produksi dengan membudidayakan maggot dan dimanfaatkan kembali untukproduksi pangan mandiri.

Eh, maggot atau magot? Setahu saya bahasa Indonesia menyerap kata tersebut menjadi magot, dengan satu “g”.

Untuk berkomunikasi, penyebutan belatung dari lalat tentara hitam (black soldier fly) sebagai larva tak menimbulkan kesan menjijikkan.

View this post on Instagram

Perihal dapur, sebelum ada MBG setahu saya Muhammadiyah, induk dari Aisyiyah, memang punya dapur sehat dan bersih di sekolah tertentu. Ada pula kantin sehat.

Maka pertanyaan saya, apakah semua SPPG sudah memanfaatkan sampah makanan untuk budidaya magot? Maksud saya memberi kesempatan kepada pihak lain untuk memanfaatkan sampah makanan agar menghasilkan magot sebagai pakan ayam dan ikan.

Maret lalu BGN menerbitkan Peraturan No. 1/2026 tentang Penanganan Sisa Pangan, Sampah, dan Air Limbah Domestik dalam Pelaksanaan Program MBG. Arah peraturan itu antara lain pemanfaatan sampah makanan untuk kompos dan budidaya magot. Apakah penerapan aturan itu sudah jalan secepat motor impor apa belum, ha?

Tinggalkan Balasan